05 May 2011

Cerpen - Curhatan Dua Insan

Jarang - jarang nih gue bikin Cerpen.
Kalo kurang menarik, maklumilah. baru pemula(hehe). ya, mudah - mudahan dengan izinNYA nih cerita bisa membuat hati anda berkata "wiiih, jago juga nih manusia bikin cerpen". Tapi kita kan gak tau, kita bukan mahkluk yang sempurna karena kesempurnaan hanya milikNYA.
Terima kasih atas perhatian Ibu/Bapak/Encing/Enyak/Babe. 
Wasalamualaikum.Wr.wb
Salam Manusia!!




Curhatan Dua Insan
Laki – Laki

          Cahaya lampu taman tetap setia menemaniku. Seperti merasakan perasaanku yang sekarang sudah diujung keputus asaan. Aku masih duduk membeku dengan tatapan kosong menerawang. Angin terus mondar mandir cepat tanpa memperdulikan tubuh kecilku. Dingin. Orang lalu lalu lalang jarang sekali di taman. Kebanyakan sepasang kekasih sering melesat di mataku. Mengapa aku harus hidup dibalut dengan kesengsaraan yang amat tebal? Satunya lepas pasti akan ada yang membalut lagi. Sosok tukang sapu taman muncul dihadapanku, membuyarkan semua lamunanku.
“Mas sedang apa malam-malam begini duduk sendirian? Nunggu pacarnya ya?”
           Aku hanya menjawab dengan senyuman. Lalu tukang sapu itu meninggalkan pria berumur dua dua puluh tujuh ini sendirian di bangku taman. Semakin jauh tukang sapu itu di makan kegelapan. Di pojok lain aku menyaksikan pertunjukkan sepasang kekasih saling bermadu mesra. Iri menjalar di hatiku dan menyelimuti tubuhku. Jika pisau ditangan kananku mungkin aku akan diam-diam menyelinap kebelakang semak-semak lalu menancapkan kilatnya pisau ke tubuh wanitanya. Agar prianya merasakan kepedihan sepertiku. Geram aku dibuatnya. Aku melirik jam taman, jarum pendek menunjuk ke angka sembilan di malam hari.
           Tetap. Otak ini tidak mampu menyuruh syaraf tubuhku digerakkan. Jika saja kekasihku yang bajingan itu mengaku sejak awal, penderitaan ini tidak akan pernah ada. Gemerlap bintang masih panas membicarakan kepedihan yang ku alami. Aku hanya diam dibuatnya. Taman mulai kehilangan penghuninya. Hanya siraman cahaya lampu membahana didasar taman. Samar-samar aku melihat sosok wanita jalan tergontai-gontai. Siapakah wanita itu malam-malam begini?

Wanita 

           Bajingan. Benar kata temanku. Laki-laki itu penipu. Sangat berbahaya bila tertangkap tipu licik muslihatnya. Pasti ada maunya. Suatu hari nanti akan kubalas perbuatannya. Sial. Sekarang aku hanya bisa teriak di dalam hati. Bisa saja sih aku teriak kencang di taman yang sunyi ini. Kupikir, bunga melatiku akan membahagiakannya. Setelah ada bunga lain mekar kini aku hanya bunga melati layu yang tak terurus. Aku tidak peduli harus kemana kakiku mengayun.
           Meskipun tidak ada apa-apa didepanku. Biar saja ada yang lihat masa bodoh dengan itu. Persetan dengan laki-laki. Ditengah itu, sayu-sayup aku melihat seorang laki-laki sedang duduk sendirian di bawah terpaan lampu. Kini aku mengarahnya.

Laki-Laki 

            Semakin jelas. Sekarang hanya beberapa meter didepanku wanita yang tadi kulihat. Samar-samar aku melihat kesedihan terpancar dari muka dia. Nekad aku mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Sedang apa mbak, malam-malam jalan sendirian?”
“Harusnya saya yang berkata seperti itu”
           Angkuh sekali responnya. Aku hanya diam ketia dia duduk disampingku. Tidak enak hati mengajaknya berbicara. Keangkuhannya tadi menciutkan niatku. Kini hanya kami berdua duduk di bangku taman. Sepi. Saat ini hanya suara lalu lalang mobil ibu kota menjadi tema telingaku. Kulirik kearah wanita itu. Aku kaget air matanya berjatuhan tersendu-sendu menangisi kejamnya dunia. Kontan bibirku memberanikan diri bersuara.
“Loh, mbak, kok nangis?”
“….” (diam)
           Hahaha. Aku tertawa di dalam hati. Ternyata bukan aku saja yang mengalami kejahatan dunia. Wanitalah tersangka utama dalam sandiwara hidupku.
“Cerita aja kali mbak, toh cuman kita berdua kan, gak ada yang dengar kok”
Senyuman hadir di mukaku. Wanita itu hanya menatapku curiga dengan mata berkaca kaca.

Wanita
 
          Laki-laki memang berengsek. Selalu saja ingin tahu urusan orang lain. Lebih baik aku diam saja, daripada nanti hal yang tidak kuinginkan terjadi. Tapi sekarang aku membutuhkan tempat untuk bersandar. Menutup luka di hatiku yang kian lebar. Seandainya disampingku yang mengajak bicara adalah wanita pasti aku sudah mencurahkan hatiku kepadanya. Sayangnya aku sudah muak dengan makhluk yang satu ini. Aku membungkam mulutku. Kubiarkan air mata jatuh sampai habis. Lagi-lagi, laki-laki itu memaksaku untuk berbicara. Aku tetap diam meskipun ia mendesakku bicara. Tapi, panjang pikir tidak ada salahnya aku bercerita. Kami belum saling kenal ini. Selama belum kenal pasti dia tidak akan bisa menyakiti hatiku.
“Ah, tidak apa-apa kok mas”
“Gak apa-apa kok menangis?”
“Hmmm”
“Kok senyum?”
“hihi, mas sendiri ngapain malam-malam begini duduk sendirian?”
“Oh, aku menunggu seseorang, tapi gak tau datang apa enggak”
“Loh, kalo gitu untuk apa menunggu yang tidak pasti?”
“Habis…”
“Habis kenapa mas?”
“Gak jadi deh”
Suara jangkrik setia menemani kami. Dilihat dari penampilannya aku yakin orang ini habis di PHK atau dicampakkan kekasihnya. Aku yakin sekali banyak orang di luar sana memiliki nasib seperti kami. Seperti tersingkirkan. Sendirian.
“Mas, dunia itu kejam ya. Tajamnya menyerupai belati yang mantap di asah”

Laki-Laki
 
          Pertanyaan keluar dari mulutnya. Tadi diam saja, sekarang malah mengajak berbicara. Dasar wanita memang susah ditebak. Layaknya labirin yang amat luas. Daripada tadi aku diam saja tidak ada salahnya aku bergumam dengannya.
“Hehehe. Bahkan lebih tajam dari itu mbak”
“hahahaha. Iya ya”
“Tapi mbak, dimana ada masalah disitu juga ada jalan keluar”
“Aku juga tau mas, tapi sayang kali ini aku lagi tersesat”
“Wah bahaya sekali. Setidaknya itu bukan akhir dari segalanya kan. Malu bertanya sesat di jalan”
“Maksudnya? Ooh jadi saya haurs bertanya pada orang begitu?”
“Kenapa tidak?”
“Saya takut dibohongi lagi mas. Dampaknya entar malah tersesat”
“Biadab sekali orang itu. Siapa gerangan yang membuat anda tersendu-sendu?”
           Sempat diam. Wanita itu menceritakan segalanya dengan ringan tidak ada penutup lagi. Aku tersenyum sendiri, ternyata yang membuatnya tersesat adalah laki-laki. Orolan hangat berjalan di alurnya. Melayun indah. Aneh juga orang yang baru saja bertemu beberapa saat yang lalu tidak canggung menceritakan masalah pribadinya. tapi aku menyukainya.
“Aku sudah menceritakan semuanya dan dari penampilanmu aku yakin kau juga punya masalah”
Wanita itu mengagetkanku.
“Oh. Oke aku akan bercerita”

Wanita
 
          Jauh dari perkiraanku sebelumnya. Laki-laki yang satu ini menarik juga. Dia memulai bercerita masalahnya. Jujur saja aku lega mencurahkan hatiku semua. Masalah akan sulit ditangani bila seorang diri. Bibirnya yang manis berucap. Aku tersenyum di hati. Inti masalah dia adalah sama denganku telah dicampakkan oleh kekasihnya. Wanita seperti apa yah yang meninggalkannya? Andaikan aku pernah berkenalan dengan orang ini. Pikiranku mulai melayang tak tentu arah. Laki-laki itu menyudahi pembicaraannya. Kami salah satu korban maksiat dunia yang sangat kejam. Sial.
“wah, kejam sekali perempuan itu”
“Begitulah”
           Sepi. Tidak ada kata yang keluar dari kedua insan ini. Dentik jam menguasai bahana. Jarum pendek jam menjulang ke atas langit. Tidak terasa memang. Sama sekali.

Laki-Laki
       
          Kutarik napas yang dalam. Angin sejuk menerjang. Tidak terasa kami bercakap-cakap sangat lama. Ku palingkan pandangan ke jam tua yang berdiri di taman. Menunjukkan pukul dua belas malam. Aku tidak peduli lagi dengan tempat tinggalku. Apa ini keerlaluan. Seorang wanita akar dari penderitaan ini. Kuhembuskan napas. Biarkan saja napasku bersatu dengan udara yang lain. Agar tidak sendirian seperti majikannya. Wanita itu masih diam. Aku ingin tahu namanya. Pikir panjang menghentikan niatku. Daripada terulang lagi. Aku berdiri. Kuraih ranselku. Membelakangi wanita tadi. Wanita itu memperhatikanku. Aku diam. Langkah kaki mengayun lemas. Tidak aada ucapan selamat tinggal yang kubuat. Kaki terus melangkah satu arah. Tanpa gerak bibir.
           Pertemuan apa ini? Tapi aku senang. Tutup lembaran yang usang, detik ini kubuka lembaran kosong. Akan aku tulis dengan tulisan yang rapi dan ku rawat lembaran ini. Lain dari yang dulu. Kuawali oleh senyuman. Pasti.

Wanita
 
           Apakah ini waktunya aku berpisah dengan lelaki itu. Singkat tapi jelas. Tak berkedip kusaksikannya pulang. Tidak ada sautan darinya. Yah, mungkin dia juga berpikiran sejenis dengan otakku. Dia berjalan mengikuti angin berhembus. Tidak jelas. Makin lama semakin jauh. Karena gelap. Hilang.
           Kesendirian menyelimutiku dari belakang. Tapi aku menikmatinya. Ku cari waktu senikmat ini. Ada didepan mata membentang. Badanku berdiri menopang beban hidup jiwa ini. Bukan saatnya mengeluh, mantapkan hati dan pikiran. Keluar dari hutan belantara kehidupan. Ayunan kaki mengayun mantap. Bertujuan. Tidak ingin terlarut oleh cairan hitam kental pahit. Aku ingin tetap air, bening dan bersih. Kini hanya senyuman tipis mengembug. Kepada hidupku selanjutnya.

!Selesai/The End/Tamat!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...