28 October 2011

Cerpen - Inikah Anak Jalanan?



Baik buruknya ini cerpen hanya pembaca yang menentukan :D


Selamat membacaaaaa.. . . ..  .. . .

Inikah Anak Jalanan?



           Merdu. Nyanyian burung kian manis di pagi hari yang sunyi. Matahari mengintip di balik keagungannya yang besar. Perlahan beranikan diri membuktikkan kebesaran yang megah. Hangat pagi merasuki tubuh dan memanjakan permukaan kulit. Kutarik dalam-dalam udara segar agar menelusuk hidung. Hari libur paling menyenangkan melemaskan badan. Waktu tidak memungkinkan bersantai-santai lebih lanjut. Mengingat segunung tugas menunggu untuk diraba dan dicoba. Ku buka isi otakku. Meliput anak jalanan adalah file otak yang belum di tanggung. Bertambahlahi file karena ulah dosen.
       Air pagi mempersegar tubuh. Dingin. Ku persiapkan barang-barang yang dibutuhkan selama aku bekerja. Matang untuk melihat kehidupan sekelompok nista bagi orang-orang. Kadang hatikupun demikian. Minggu lalu hal semacam ini berharap dirancang sukses. Aku bertanya pada jiwaku ini.”Apa sanggup bersama mereka?”. “Satu hari satu malam.”.Hari inilah jawaban dari semua pertanyaan yang ada disini. Hati. Orangtua menyemangati apa yang kulakukan. Bermodalkan tas berisi seadanya dan uang secukupnya semaki tertantang saja dibuatnya.
        Gedung-gedung menjulang tinggi menghiasitanah ibu kota tercinta. Terpampang dari sisi kiri kanan angkutan umum. Sekian berubah menjaditempat kumuh. Bangunan diperkuat balok seadanya dan seng berkarat menyempurnakan sisi atap. Mengenaskan bila dilihat mata hati manusia. Macam apa dia yang tinggal diasana. Lima ribu rupiah adalah tanda terima kasihku pada sopir yang telah memberikan jasa ke semua orang di Jakarta.
           Tempatku berdiri terletak dari beberapa meter ke tempat tujuan. Perlahan demi perlahan jejak kaki ku buat ditanah lembab. Bau tak sedap hadir di penciumanku. Pemukiman yng kumuh. Rel kereta api terpampang di rumah mereka yang berjarak tiga meter dari sini. Anak – anak kecil asik bermain bersama teman sebayanya. Tidak habis piker tempat kotor nan sedih dan kumuh ini masih ada keceriaan di dalamnya. Bagaikan lukisan cantik bergantung di dinding yang keropos. Sampailah aku di depan bangunan kecil amat sederhana. Tidak lebih sederhana. Pintu tertutup rapat lalu aku mengetuknya. Sesaat. Keluarlah sesosok anak kecil berumur dua belas tahun. Berpakaian ala kadarnya.
Wajah hitam kucel itu tidak sanggup mengalahkan indahnya senyuman terpancar dari perawakannya. Kubalas hangat senyum itu. Lalu kusapa.
           “ Hi, apa kabar? Gimana hari ini bisa kakak rekam?”
           “ Pasti dong kak. Berasa artis nih. Hehe.” Sahut dia penuh keceriaan.
           “ Ya udah, kakak nitip barang – barang di rumah kamu yah.”
           “ Ok. Taruh di kamar aku saja.”
         Matahari mulai tegak di langit biru. Pekerjaanku segera dimulai. Dia. Adalah dari sekian anak jalanan yang menaruh takdir hidupnya di jalanan lepas. Namun dibalik itu ada rahasia sangat dalam mengundang. Kutekan tombol play pada handycam kuarahkan lensa ke dia. Gelagak tawa dan tingkah polosnya mulai dipicu. Siang itu aku diajak oleh sekawanan dia. Kesengsaraan menyelimutinya, tapi masih ada tawa di muka polosnya. Kesana kemari berlarian tanpa beban. Ringan dan lincah. Sudah cukup lami kami berjalan. Handycamku masih aktif merekam semua kejadian. Sampai batasnya di bawah kolong jembatan tol. Perempatan jalan di daerah Jakarta Timur.
         Dia mulai beraksi. Lensa handycamku terus fokus dari jauh. Duduk terpaku melihatnya. Ditemani gitar kecil, bergantian dia beraksi di jalanan panas. Panasnya matahari bukan alsan mereka untuk berhenti. Receh demi receh masuk ke kantong mereka. Pemberian ikhlas dan hasil jeri payahlah yang mereka inginkan. Bukan iba dan kasihan yang diterima. Terduduk mereka di pinggir jalan sambil bersenda gurau. Tubuhku langsung menghampiri.
         Puas mereka beraksi di jalan kini giliran didepan handycam unjuk gigi. Jujur saja lima menit disini ibarat di neraka. Tapi panas menyengat tidak menciutkan semangat mereka. Berbekal modal dua ribu rupiah, nasi plus lauk pinggir jalan sudah memanjakan perut. Bagi dia dan kawan – kawannya. Terduduk lagi aku ditempat tadi sambil menyorot. layakkah para penerus bangsa ini berkeliaran di jalanan lepas? aku bertanya ke diriku lagi. Tanpa lelah terus saja mencari uang demi kehidupan. Bekerja keras. Andaikan petinggi – petinggi Indonesia memiliki semangat juang seperti mereka. Apa yang akan terjadi dengan Indonesia? Kemajuan pasti digenggam tangan. Satu – persatu mobil dihampiri. Siap menerima uluran tangan pengemudi ikhlas.
      Aku tersentak dengan segerombolan pria dewasa. Berpakain hitam dan celana bolong menandakan kebringasan. Rambut gondrong tak karuan. Kulit di penuhi bekas luka – luka lampau. Sorotanku bertahan terus. Akan terjadi peristiwa.
       Kucing menangkap tikus. Kuberi nama aksinya. Kekhawatiran memeluk tubuhku. Pikiran berkecamuk tiada henti.keteguhan hati memintaku diam. Ini tugasku. Inilah hidup dia. Segerombolan itu menunjuk kearah anak muda yang sedang mencari makan hidup. Menghampiri lalu mengelilingi mereka. Rasa takut menyambut. Lensa terus fokus dan mencatat apa yangt terjadi. Digerayanginya kantong dia penuh memaksa. Percuma memberontak. Senyuman kecil tersungging atas hasil yang di dapat. Sejumlah uang anak jalanan dari bersusah payah bekerja seharian. Musnah sekejap oleh segerombolan preman jalanan.
       Kehidupan memang keras. Batu saja kalah kerasnya oleh kehidupan ini. Aku tetap duduk membisu di kolong jembatan. Menyaksikan yang terjadi dari lensa handycamku. Segerombolan preman pergi menjauh. Merdeka dari apa yang ditemukan. Anak jalanan saling menyesalkan. Duduk tapi raut muka yang tidak menyenangkan. Terus diam. Dia, berdiri. Lampu jalanan berwarna merah. Alat musik gitar dibawa ke jalanan. Aku tersenyum. Penderitaan habis terjadi. Semangat mereka masih menetes. Aku yakin pada hati dia. Satu orang tidak cukup. Semuanya pun turun.
        Langit berwarna jingga. Matahari pun kini mengumpat dibalik bumi Indonesia. Mereka menjemputku. Badannya penuh keringat dan kesah. Satu pertanyaan menyambutku.
         “ Kak, kok tadi gak bantuin kami sih?” spontan aku menjawab
         “ Maaf dek, kakak sedang meliput kalian. Jadi kakak harus tetap merekam tanpa ada sangkut paut dari kakak.”
         “ Ooh, gitu. Ya udah ayo kita pulang.”
       Aku mencoba tersenyum. Gelap kini menyelimuti cakrawala. Lampu – lampu kecil menerangi daerah yang amat kecil di kota besar Jakarta ini. Adzan Maghrib berkumandang. Dia dan yang lain bergegas menuju masjid.
       Handycamku menyala dengan tenaga baru. Satu yang tidak mungkin ditinggalkan adalah berserah diri pada yang maha kuasa. Aku juga ikut shalat berjama’ah. Mereka melanjutkan dengan mengaji di Masjid. Itu adalah salah satu rutinitas mereka. Aku keluar Masjid sambil menunggu mereka selesai. Lampu – lampu yang bergantungan masing - masing rumah menemaniku di malam yang senyap. Sepi dan dingin. Bintang – bintang berlomba memancarkan sinar yang terang. Handycamku berhenti bekerja. Tenggelam oleh lamunan dan seruan pengajian yang sekali lagi menyadarkan.
       Hidup itu keras. Kupejamkan mata. Tidak di sadari telapak tangan menengadah ke langit luas. Ucapan doa melantun dari mulutku. Doa terimakasih, doa syukur, doa dia, doa keselamatan, doa orang tua, doa semua manusia, doa alam semesta, dan doa jagat raya. Berteriak kencang di palung hati. Gravitasi membuat air dari kantung mataku jatuh. Kenapa? Baru sekaarang aku menyadari hal semacam ini. Mengapa? Baru menangis sekarang. Bagaimana? Aku mengubahnya. Jam tanganku berdenting delapan kali. Pengajian telah selesai. Aku diajak berkeliling oleh dia dan teman – temannya. Sejam berlalu. Aku dan dia kembali kerumah. Dikamar. Aku disuguhi berbagai pengalaman yang ada di isi kepalanya. Aku tak tahu ekspresi apa yang mesti ku keluarkan. Senang? Sedih? Campur aduk mengocok naluriku. Panjang lebar ngalor ngidul dia bercerita. Seusai bercerita, diambilnya barang – barang yang menurutnya berharga. Di tadahkan tanganku agar menerima pemberiannya. Ucapan terima kasih berseru dari mulutku. Sedari tadi handycamku terus menelusuri apa yang terjadi.
        Kusoroti semua tanpa tersisa. Kulihat raut wajah mengantuk dari anak ini. Tidak terhitung berapa kali dia menguap.
          “ Kak, tidur yuk, udah malam!”
        Aku mengiyakan ajakannya. Di pembaringan. Hari ini bertambah pengalaman tak terduga di hidupku. Pasti kucatat dengan tinta amat tebal. Sepi menuntunku ke alam mimpi. Terlelap.
        Suaa anjing menggonggong. Ayam berkokok kencang. Burungpun ikut serta dalam paduan suara pagi itu. Karena merekalah aku terbangun dari malam yang sangat panjang. Nyenyak. Perlahan aku mencoba menopang badanku yang besar. Kesadaran belum pulih betul. Kulihat disebelah. Dia sudah tidak ada. Ku hampiri pintu keluar kamar. Matahari menyapa bersahabat dari luar rumah. Suasana kumuh tetap melekat di daerah ini. Namun udara segar pagi mengenakan. Bapak – bapak yang lalu lalang menyahutku ramah. Anak – anak bermain gembiranya. Aku kaget tepukkan tangan dia yang mungil mendarat di atas pundakku. Seraya mengajakku sarapan pagi. Aku pun beranjak dari teras nan sederhana. Menuju ruang makan.
         Nasi, tempe, ikan asin, dan lalapan menggiurkan di atas meja. Aku sarapan dengan keluarga yang asri. Meskipun kehidupan yang dipikul sangat berat. Mereka tetap bersyukur akan apa yang ada. Seusai makan aku merapikan barang – barang dan semua perlengkapanku. Mereka menunggu di depan rumah. Akhirnya pertemuan langka ini akan berakhir di pagi yang cerah. Sepintas aku mengeluarkan uang. Kuberikan kepada dia dan dia yang lain. Senangnya, melihat mereka bertingkah konyol gembira. Tidak lupa orangtua dia yang sedia menampungku. Aku menyalami semua yang hadir.
        Waktu membawaku pergi dari mereka. Lambaian tangan gemulai menyejukkan hatiku. Akan ku ingat daerah ini. Bila waktu mengizinkan. Aku pasti mengunjungi tempat ini. Batunya kehidupan akan hancur oleh kerja keras yang deras dan kebahagiaan yang tidak kunjung henti mengalir

24 October 2011

Cara Membuat Scroll Pada Blog Archive



Bagi kalian yang udah ngeblog bertahun - tahun lalu terus di blognya ada widget archivenya, pasti akan muncul sangat panjang kebawah bila di pilih.

Nah, dengan ini kita bisa ngebuat scroll pada archive kita. Jadi hemat tempat deh. Bagi yang suka hemat - hemat bisa dicoba lah ini. Kalo demen yang boros - boros yaaaa, buat pengetahuan aja broo :D

Moongggooooo.. . . .. . ...


Cara Membuat Scroll Pada Blog Archive (Arsip Blog)
1. Login ke Blogger.
2. Di halaman Dasbor, kita pilih Rancangan.
3. Kemudian pilih Edit HTML
4. Beri tanda centang pada Expand Template Widget
5. Cari kode berikut


<b:widget id='BlogArchive2' locked='false' title='Arsip Blog' type='BlogArchive'>

6. Kode lengkapnya adalah seperti ini

<b:widget id='BlogArchive2' locked='false' title='Arsip Blog' type='BlogArchive'>
<b:includable id='main'>
<b:if cond='data:title'>
<h2><data:title/></h2>
</b:if>
<div class='widget-content'>
<div style='overflow:auto; width:ancho; height:200px;'>
<div id='ArchiveList'>
<div expr:id='data:widget.instanceId + &quot;_ArchiveList&quot;'>
<b:if cond='data:style == &quot;HIERARCHY&quot;'>
<b:include data='data' name='interval'/>
</b:if>
<b:if cond='data:style == &quot;FLAT&quot;'>
<b:include data='data' name='flat'/>
</b:if>
<b:if cond='data:style == &quot;MENU&quot;'>
<b:include data='data' name='menu'/>
</b:if>
</div>
</div></div>
<b:include name='quickedit'/>
</div>
</b:includable>
<b:includable id='flat' var='data'>
<ul>
<b:loop values='data:data' var='i'>
<li class='archivedate'>
<a expr:href='data:i.url'><data:i.name/></a> (<data:i.post-count/>)
</li>
</b:loop>
</ul>
</b:includable>
<b:includable id='menu' var='data'>
<select expr:id='data:widget.instanceId + &quot;_ArchiveMenu&quot;'>
<option value=''><data:title/></option>
<b:loop values='data:data' var='i'>
<option expr:value='data:i.url'><data:i.name/> (<data:i.post-count/>)</option>
</b:loop>
</select>
</b:includable>
<b:includable id='interval' var='intervalData'>
<b:loop values='data:intervalData' var='i'>
<ul>
<li expr:class='&quot;archivedate &quot; + data:i.expclass'>
<b:include data='i' name='toggle'/>
<a class='post-count-link' expr:href='data:i.url'><data:i.name/></a>
<span class='post-count' dir='ltr'>(<data:i.post-count/>)</span>
<b:if cond='data:i.data'>
<b:include data='i.data' name='interval'/>
</b:if>
<b:if cond='data:i.posts'>
<b:include data='i.posts' name='posts'/>
</b:if>
</li>
</ul>
</b:loop>
</b:includable>
<b:includable id='toggle' var='interval'>
<b:if cond='data:interval.toggleId'>
<b:if cond='data:interval.expclass == &quot;expanded&quot;'>
<a class='toggle' expr:href='data:widget.actionUrl + &quot;&amp;action=toggle&quot; + &quot;&amp;dir=close&amp;toggle=&quot; + data:interval.toggleId + &quot;&amp;toggleopen=&quot; + data:toggleopen'>
<span class='zippy toggle-open'>&#9660; </span>
</a>
<b:else/>
<a class='toggle' expr:href='data:widget.actionUrl + &quot;&amp;action=toggle&quot; + &quot;&amp;dir=open&amp;toggle=&quot; + data:interval.toggleId + &quot;&amp;toggleopen=&quot; + data:toggleopen'>
<span class='zippy'>
<b:if cond='data:blog.languageDirection == &quot;rtl&quot;'>
&#9668;
<b:else/>
&#9658;
</b:if>
</span>
</a>
</b:if>
</b:if>
</b:includable>
<b:includable id='posts' var='posts'>
<ul class='posts'>
<b:loop values='data:posts' var='i'>
<li><a expr:href='data:i.url'><data:i.title/></a></li>
</b:loop>
</ul>
</b:includable>
</b:widget>

7. Kode warna merah dan hijau adalah kode yang ditambahkan kedalam script tersebut, 200 adalah tingginya, dan kita bisa ubah seseuai selera.

 8. Simpan jika sudah selesai.

Sumber: http://kurniasepta.blogspot.com/2011/10/membuat-scroll-pada-blog-archive-arsip.html

UTS Oh UTS



Haduuuuhh, akhirnya hari yang tidak ingin ada oleh para mahasiswa datang.

Hari dimana yang akan menentukan kelangsungan kuliahnya. Hari itu adalah :

UTS


Tapi gue bisa menetralisir kegalauan gue biar enggak panik dengan moment ini. Pikirkan mindset gue dengan

UTS = UJIAN TIDAK SERIUS


Nah, ini baru like this.. Buktinya gue masih sempet-sempetnya bikin blog.. . . hahaha

Selamat UTS para mahasiswa seluruh Indonesia (bagi yang menjalankan)

Biar gak panik ikutin mindset gue yee, tapi kalo ada kenapa-kenapa itu ditanggung sendiri brooo!! :D

SALAMM MAHASISWAA!!!

FYI: Padahal orang yang menulis ini dialah yang panik karena UTS

17 October 2011

Renungan kepada Orangtua

Gue comot nih note dari temen gue :D

Lumayan juga buat bahan penggalauan sama pacar! EH SALAH sama orang tua yang betul :D

Simaakk Brooo.. . .. .. . .



Kisah Si Pensil Dan Si Penghapus




Pensil     : "Maafkan aku Penghapus..."

Penghapus  : "Maafkan aku??untuk apa Pensil?? Kamu tidak
              melakukan kesalahan apapun kepadaku..."

Pensil     : "Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka.
              Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu
              berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali
              kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan
              sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin
              kecil dan kecil setiap saat..."

Penghapus : "Hal itu memang benar...Namun aku sama sekali tidak
             merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta
             untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk 
             selalu membantumu setiap saat kau melakukan
             kesalahan.Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku
             akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang
             baru. Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi
             tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka
             melihat dirimu bersedih..."


Si Penghapus adalah Orang Tua kita...
Si Pensil adalah diri kita sendiri....

Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya...

Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya...

Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu...
Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil...
(Bertambah tua dan akhirnya meninggal).

Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri), Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih. "Hingga saat ini...
Saya masih menjadi Si Pensil...

Hal itu sangat menyakitkan diri saya...

Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "Kecil" dan "Kecil" seiring berjalannya waktu.
Kelak suatu hari...

Yang tertinggal hanyalah "Serutan" si penghapus
Segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."

Kisah ini saya dedikasikan secara khusus kepada orang tua saya dan seluruh
orang tua kalian...


Sumber: Note temen ane ( https://www.facebook.com/notes/rahmad-aziz-syahulata-prima/kisah-pensil-dan-penghapus-renungan/152099821552987 ) :D

11 October 2011

Dibalik Hati Wanita


 
Bagus dibaca wanita dan pria :D



Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulang tahunku
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirim aku bunga

Aku mendapat bunga lagi hari ini
Ini bukan hari ulang tahun perkawinan kami
Semalam a menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku
Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku
Aku tahu ia menyesali (perbuatannya) karena ia mengirim bunga padaku hari ini

Aku kembali mendapat bunga hari ini
Bukanlah hari ibu atau hari istimewa lain
Semalam ia memukul aku lagi
Lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu
Aku takut padanya tapi aku takut meninggalkanya
Aku tidak punya uang
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali (perbuatannya) semalam
Karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga

Ada bunga untukku hari ini
Hari ini adalah hari istimewa!
Inilah hari pemakamanku
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam
Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya
Aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini


Kadang wanita terlalu lemah dan menerima saja untuk disakiti oleh pria yang dicinainya

STOP KEKERASAN PADA WANITA!!!

"Aku adalah tiap rintik hujan yang membasahi bumi, kecil, sedikit, tapi berarti"

"Kata-kata kasar dapat membuat aku pergi (selamanya)"

"Air mata darah pun tidak bisa membawa aku kembali"

Itu semua dapet dari bidadari gue broo!! :p
Yaahh, jadi begitulah :D

04 October 2011

Tugas = Cerpen

Ini cerpen gue buat karena ada tugas dari dosan gue yang cantik.

Jujur broo, bagian belakangnya kagak nyambung. Soalnya kepotong acara ketemu cewek gue yang cantik jelita. hehehe :D

Tapi simak aja yee. Khususnya yang lagi jadi mahasiswa baru, ini cerpen tentang itu.

Monggoooooo.. . ... .. ... . . .



Balada Mahasiswa

                                                                     



“Wuiih, keren kau men. Wisuda dengan IPK di atas rata – rata” sahut temenku sambil menepuk pundakku
                “Weehh, iyaa makasih men” sambil seyum simetris 2 Cm
                Empat tahun kuliah akhirnya dengan hasil yang memuaskan. Setidaknya orangtua senyum karena hasil yang ku dapat. Setelah pengalungan medali aku keluar sebentar buat nyari udara segar. Satu batang rokok menemaniku berpikir nyari kerja dimana habis ini? Apakah perusahaan besar yang aku dapat atau kecil? Apa malah jadi pengangguran? Hmmm. Dari kejauhan aku liat seorang pria. Dari wajahnya mungkin lima tahun diatasku. Berpakaian baju kerjanya. Wuih, pasti tenang bila seperti dia, jelas! perusahaan besar baju yang dia pakai. Pikirku. Pria itu berjalan dengan tegapnya, sangat cocok dengan postur badan yang tegap juga dasi yang menghiasi dirinya. Dia melangkah ke arahku.
                “Siang dek” sapanya
                “Yaa, siang mas” balasku dngan senyum
Dia duduk dibangku yang sama denganku. Dirogoh kantong bajunya, lalu mengeluarkan bungkus rokok beserta pemantiknya. Dinyalakanlah rokoknya. Aku terus memandang kedepan memikirkan segala kedepannya aku ini nanti jadi apa?
                “Baru selesai wisudanya ya dek?” tanya pria tadi mengawali pembicaraan
                “Oh, iya mas. Baru aja selesai. Saya lagi nyari angin saja” jawabku
                “Hmm, gimana nilainya? IPK bagus gak?”
                “Wah, lumayan seh mas. 3,95”
                “Bukan lumayan lagi itu mah, tapi tanggung yah. Padahal satu nilai lagi sempurna”
                “Hehehe, iya mas. Waktu itu dikasih tugas, tapi badan gak bisa diajak kerja sama. Jadi bolong deh satu tugas”
                “Oh, begitu toh. Emang kesehatan tuh lebih penting dari yang lain yah. Sekali saja kita bermasalah dengan kesehatan pasti akan berdampak dengan kepentingan yang lain”
                “Yah, begitulah mas” jawabku sambil tersenyum
                Pria itu membuang puntung rokok yang habis dihisapnya. Telepon genggamnya berdering, lalu dia mengangkatnya. Aku sedikit menguping apa yang dibicarakan si penelepon. Suaranya memang keras jadi terdengar. Aku mendengarkan bahwa pria yang disampingku ini disuruh mencari mahasiswa dengan IPK diatas rata – rata dari universitasku untuk dijadikan pegawai di perusahaannya. Aku sedikit kaget, lalu berpikir girang kebetulan sekali aku ada disampingnya. Dia sudah tahu berapa IPK ku semoga saja dia melirikku. Selesai menelepon dia menengok kearahku lalu tersenyum. Pasti dia juga sudah tahu bahwa tadi telingaku sedikit nakal. Dikeluarkannya kertas selembaran dari tasnya. Tepatnya seperti formulir pendaftaran. Lalu dia bertanya padaku.
                “Apakah adek sudah memiliki pekerjaan di suatu perusahaan?”
                “Oh, belum mas. Ini saja saya lagi bingung mikirin gimana saya nyusun agenda buat kedepannya mas.”
                Jika kata – kata “adek mau tidak bergabung dengan perusahaan kami?” yang keluar dari mulutnya. Jelas aku senang sekaligus lega. Tidak pandang bulu pasti aku siap sedia menerima tawarannya. Lalu aku menunggu.
                “Oh, belum yah. Kebetulan perusahaan kami butuh personil untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Jadi, adek mau tidak bergab . .. . .. ... .. .... .... ..”



“WOOOOOOIIIII BANGUUUUNNNN BANGUUUUUUNNN!!!!!!”
“BAANGUUUUNNN LOE MEENN, TELAATT KITAA!!”

“Nyamnyamnyam, Wooaaaahhhmmm, ada apa sih ple? Ganggu tidur aje lu”
“Busett!! keboo sumpah lu ris. Ospek sekarang cuy jam 5!” itu jam 5 pagi yee
                “Hmm, iye tau gue emang jam berapa sekarang?” sambil merem melek gue nanya
                “Jam empat lewat lima puluh dua menit!!” geram si Juple sambil nunjukkin jam weker
                “Buseett!! Telat kita nih ple!!”
                “Daritadi dodol!!”
                Langsung dengan sigap gue bebenah diri. Untung segala persiapan ospek udah disiapin sebelum gue tidur. Hari ini adalah hari pertama gue menjadi mahasiswa. Tepatnya mahasiswa baru. Setelah kemarin lulus dari sekolah menengas atas kini gue melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tempat perguruan tinggi yang mau gak mau harus menerima keberadaan gue nanti itu berada di kota Bandung. Tetanggaan dengan kota gue. Setiap orang pasti bertanya. “kenapa lo mau disana? Disini juga banyak bro?”. Alasan gue milih di Bandung, karena gue sebelumnya pernah tinggal disana jadi ya enak aja. Kedua, gue nyadar tipe anak seperti gue itu adalah tipe anak yang harus jauh dari orangtuanya karena apabila dirumah pasti si anak ini akan menyusahkan orangtuanya. Begitulah maksudnya, pasti tau dong. Ketiga, semua orang tahu bahwa para betina di Bandung itu memiliki ciri khas ‘menarik’ yang membuat para pejantan tertarik karena ke’menarik’kan para betina yang suka ‘menarik-narik’. Kalo ada yang tidak mengerti kalimat yang sampai jungkir balik gue bikin tadi berarti yang baca ini belum cukup dewasa. “Terus, lo kuliah mau nyari ilmu apa nyari yang ‘sesuatu banget’ gitu yah?”. Kalo ditanya seperti itu, gue akan memulai dengan senyuman imut gue dilanjutkan lagi dengan senyuman yang lebih imut dari bayi. Itulah jawaban gue.
                Kembali ke hari ini. Hari pertama gue jadi mahasiswa diawali dengan adat istiadat yang gue pikir-pikir tidak ada dampaknya. Kenapa begitu? Kenapa yaaaaahhh, apa coba hayoooo. Ogah ah, entar gue di obok-obok lagi ama kakak senior yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Harusnya hari ini gue masuk pukul 05:00 WIB. Tapi sayang kenyataan berkata lain, akibat televisi yang menyuapi gue dengan tayangan bolanya gue udah kayak kebo yang dicucuk hidungnya. Alhasil keterlambatan manemani diriku dan temanku yang gue ajak sesat ini. Hahaha, maaf ya kawanku Juple.
                “Eh, ris lo kagak mandi?”
                “Udah kok.. .. .. . kemarin sore”
                “Gileeee, itu mah sama aja belom. Onyon”
                “Dih, udah kali. Itu namanya inisiatif coy!”
                Muka sepet
“Terserah lo dah. Ayoo, kita berangkat”
“Yooo.. hoaaahhmm”
Anak kost. Itulah status hidup gue sekarang. Di Bandung gue ngekos deket kampus gue. Kira-kira 10 menit sampailah. Gue bareng Juple satu kost. Jadi lumayan masalah biaya dibagi dua.
“Ayo ris, lama lo!”
“Iyee.. nyok kita olahraga pagi”
“Wokee, siap yah. Bersedia.... .siaapp.. . .Goo!!”
Layaknya atlet lari kami berdua balapan dengan waktu untuk sampai tujuan selamat dari kicauan senior-senior. Biasalah yang namanya ospek pasti tidak jauh dari omelan sana-sini. Gedung kampus sudah terlihat kami pun menambah gigi kecepatan. Sesampainya di gerbang kampus kami melihat senior yang sudah standby.
“Wooii, kalian berdua. . .cepat lariii!!! Lambat kalian!”
Itulah sambutan senior kami yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Padahal ini udah gigi enam. Tapi tetap saja dibilang lambat! Kami belum boleh masuk. Ternyata banyak juga yang bernasib sama dengan kami. Paling gara-gara bola juga nih.

Matahari belum menunjukkan dirinya dan kami telat. Fenomena yang menakjubkan bukan? Setelah sudah yakin kalo yang telat udah habis kami disuruh masuk didampingi teriakkan fales para senior. Semua mahasiswa baru atau maba berbaris di lapangan dengan kelompok yang sudah dibuat setelah sosialisasi ospek. Gue bareng Juple satu kelompok.
Acara dimulai oleh pembukaan dan penyambutan-penyambutan dari para petinggi kampus. Semua itu memberikan efek ngantuk bagi gue dan para maba yang lain, khususnya yang telat. Gue lihat sekeliling itu dipenuhi oleh pentul korek. Termasuk gue bagian dari pentul korek itu.
Pentul korek=botak!
Setengah hari kami para maba yang bermuka polos ini terus mendengarkan sambutan dari pihak kampus. Rektor, dekan, dosen, ketua RT, senior, suara merekalah yang kami dengar. Bosan menyambut gue. Kalo udah begini mending gue ‘searching’ dah. Penerawangan gue akhirnya membuahkan hasil. Enggak tanggung-tanggung cewek disebelah gue ternyata boleh juga.
“Aduh bosen banget yah” gue memulai pembicaraan
“Iya nih, dari tadi ngomong-ngomong terus”
“Haha, iya yah. Eh, nama kamu siapa?”
“Gue Indri. Kalo lo?” dengan senyum yang menurut gue manis lebih dari gula
“Oh, namanya bagus juga. Panggil aja gue Aris”
“Salam kenal ya ris. Kamu dari mana?”
“Dari kosan tadi. Hehe” jayusnya gue
“Haha bukan. Maksudnya kamu berasal dari mana?”
“Ooooohhh, dari Jakarta Indri”
“Wah, sama dong aku juga dari Jakarta”
“Iya? Jakarta mana?” tanya gue girang
“Aku Jakarta Timur. Kamu?”
“Jakarta Timur mananya kamu? Aku juga disitu loh. Hehe”
“Hmm, daerah Cilangkap”
“Ohh, kalo gue Cibubur dri”
“Haha, deket kalo begitu. Senangnya, nemuin juga maba yang satu wilayah dengan aku”
Gue hanya tersenyum menjawabnya. Sama kok, gue juga senang apalagi yang gue temuin barang antik. Udah satu wilayah cantik pula makin betah dah gue kuliah disini. Habisnya acara cuap-cuap tadi dilanjutkan oleh acara yang dinantikan oleh senior tapi disesalkan oleh junior. Tugas-tugas yang telah dikumpulkan kini ada digenggaman para senior. Muka macan mereka tunjukkan. Dalam pikiran gue pasti bakal di marah-marahin nih. kalem aja deh gue mah.
“HEEIII KALIAAANN PARA MABAA!!”
“Siiaaappp kaakkk” jawab seluruh mahasiswa baru
“APA INII YANG KALIAAAN SEBUT TUGAAASSS??”
“.....”
“WOOOIII JAWAABBB!!” bentak senior
“Iyaaaaaaaa kaakkk!!” sahut para maba
“TUGAASS APAA INII!! TIDAAKK ADA YANNGG BENARR!!” sambil melemparkan tugas kami para maba
Hukum ospek adalah setiap kegiatan atau kelakuan dari mahasiswa baru itu ada SALAH!! Begitulah hukum ospek yang gue jabarkan. Jadi yaaa, ikutin aja deh. Kami dibentak habis-habisan sampai-sampai ada salah satu maba perempuan yang nangis karena dibentak senior. Dalam ajang seperti ini biasanya senior mencari maba yang ‘nyolot’ atau berani melawan dan gue juga menantikan hal itu. Hehehe. Tapi yang bikin hati gue cenat-cenut adalah ketika hasil kerja keras satu hari satu malem yang gue ciptakan kini telah menjadi keset sepatu senior. Rasanya tuh cekat-cekiiit-cekat-cekiiiit. Mau gimana lagi? Hukum ospek berlaku. Setengah hari ngebosenin setengah hari ngejengkelin. Bener bener dah. Omelan-omelan senior terus membahana disekitar kampus tidak luput juga dari hukuman-hukuman yang diberikan oleh senior. Gue tengok ke arah Juple dia hanya senyum-senyum sendiri di barisan kelompok. Dasar tuh bocah, emang udah keseringan diomelin emaknya kali. Jadi yang seperti ini udah biasa. Mungkin malah jadi inget kali dia sama emaknya.
                Waktu terus berjalan. Tidak terasa matahari sudah siap bersembunyi dibalik cakrawala. Itulah tanda kebesaran para maba untuk ospek hari ini SELESAII!! Serangkaian acara hari ini sangat berkesan beagi gue yang baru menjadi mahasiswa yang rada imut ini. Banyak orang yang salah kaprah mengenai ospek termasuk gue juga sih. Tapi sebenarnya ospek ini adalah pengenalan kita untuk beradaptasi sebagai mahasiswa. Karena mahasiswa itu berbeda dengan siswa sebelumnya. Tugas – tugas yang diberikan itu merupakan awal bagi maba untuk bisa menyelesaikan tugas-tugas yang akan diberikan oleh dosen nantinya. Bersiaplah Aris ini jalan lu!! Lu bukan anak kecil!! Kehidupan yang sebenarnya telah lu masukin!! Kini lu mahasiswa!! HIDUPP MAHASISWAAA!!! Kepalan tangan diatas dada dagu mengarah ke langit yang menyimpan banyak mimpi!




Komen bisa kali :D
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...