07 February 2012

Cerpen - RAHASIA

Sore hari, Stasion gambir

Kala itu aku duduk di sebuah kereta untuk menunggu keberangkatan. Mengisi luang, ku lukis jendela kereta dengan gambar perempuan yang menggambarkan diriku. Tanganku juga ku lukis dengan gambar. Gambar sesosok pria yang aku idamkan sedang berad di Surabaya. Layaknya sebuah pertemuan aku mainkan tanganku ke arah jendela tepat disamping gambarku. 

Kulihat sesosok pria tua, berumur kepala empat jalan ke arah bangku yang aku duduki dari pintu masuk kereta. Lalu dia menaruh tasnya di depan bangku aku duduk yang memang tidak ada yang menempati. Diikuti tubuhnya. Aku cuek saja dan terus bermain dengan lukisanku.

“Haaahhh.. . tangan jaill, sukanyaa corat coret fasilitas umum. Gak bertanggung jawab” sahut bapak itu dengan logat jawanya yang kental.

Aku cemberut menerima perkataan darinya. Lantas, aku bersihkan lukisanku tadi di jendela.

“Percumaaa.. . .gak mungkin bisa dibersihkan”

Aku tertunduk malu. Tidak lama dari itu, Kurasakan sakit pada perutku. Ku pegang perutku. Aku baru sadar bahwa daritadi aku belum makan.

“Kamu kenapa?” tanya bapak tua tadi di depanku. Aku tetap diam.

“Laper itu paling” tebak bapak itu.

Kulihat di memasukkan tangannya ke dalam tasnya. Seperti ingin mengambil sesuatu. Ternyata dia mengambil bekal miliknya untuk diberikan kepadaku.

“Ini, dimakan saja. Ayoo, laperrr kok gengsi” suruhnya lalu sambil membaca koran.

Tanpa pikir panjang aku mengambil makanan itu.

“Makasih” ucapku sambil tersenyum.

Disini percakapan antara kami berdua bermula.

“Aku sih, sebenarnya diet juga dan sayuran itu selalu disediakan setiap hari”

“Masa sih bapak diet? Emangnya bapak pengen kurus”

“Bagaimanapun caranya aku gak bisa kurus. Emamngnya gede itu jelek? Justru kamuu. .. .kamu yang terlalu kurus”

“Pacar saya bilang, saya cantik kalo saya kurus”

“Hmm.. . .namanya juga rayuan”

“Hahh, heran.. ..berita dimana – mana cuman pelecehan semua. Ini pelecehan.. .ini pelecehan”

“Mungkin, kayanya gara – gara itu juga deh. Bisa jadi dilarang-larang pergi. Apalagi kalo main sampai malem. Soalnya ibu pasti marah”

“Iya memang, seusia kamu apalagi perempuan. Kalo udah maghrib ya harus pulang”

“Makasih ya pak, kenyang”

“Lah terus, kamu mau kemana? Kok sendirian?” tanya penasaran bapak itu .

“Ngapain?”

“Main aja. Sama sekalian ketemu sama pacar”


FLASHBACK
Ruang tamu rumah

“Bu, Ibu bawa handphoneku kan!?” cetusku ngambek

“Ini handphonemu!”
“Ibu tuh sukanya gitu”

“Aku ini kan ibumu, aku juga perlu tau”

“Kan aku udah bilang kalau aku bakal baik – baik aja. Pokoknya aku tetap akan pergi ke surabaya”

“Ibu tidak setuju, bagaimana bisa perempuan menghampiri laiki – laki”

Suara bantingan pintu kereta membangunku dari tidur. Ku ambil hapeku di meja kereta. Aku melihat wallpaper hapeku seorang wanita, aku heran. Ternyata aku salah mengambil hape, hape itu milik bapak tadi. Ku kembalikan ke tempatnya.

“Eh, maaf pak. Salah”

“Istri bapak cantik juga yah”

Bapak itu masih diam.

“Dia memang cantik, tapi dia bukan istri aku. Yah, memang hal – hal yang sulit untuk diceritakan apalagi sama kamu yang masih kecil”

“Dih, saya udah gede kok. Cerita aja. Aku udah ngerti kok. Terus kalo itu bukan istri bapak, siapa dong?”

“Hmm, gimana ya”

Kulihat bapak itu masih ragu untuk bercerita.

“Jadi dia itu sebenarnya.. .. . .”

“Dia seorang pengantar makanan di kantor ku. Orangnya itu sangat sederhana. Tapi buat aku dia sangat menarik. Aku merasa selama ini dia yang selalu memperhatikan aku. Aku jadi sering mengajak dia datang ke ruanganku”

“Jadi, bapak sama tante itu. Begituan yah?”

“Husss, ngawur kamu itu”

“Terus pernikahan bapak gimana?”

“Yaa, makanya ini aku mau pulang. Istriku itu seorang Ibu dan seorang istri yang sangaaat baik”

“Tapi, perempuan itu memang sangat menarik sih dan dia juga merasakan apa yang aku rasakan. Lalu entah bagaimana caranya akhirnya..  . .. semua itu bisa terjadi begitu saja”

Setelah cerita bapak tadi. Kami berdua saling terdiam.

“Tapi.. . .tapi ya”

“Tapi aku berharap semua itu berlangsung lama, gak akan berlangsung lama cuman sampai hari ini saja. . .sampai hari ini”

“Hehh, loh. Kamu kok tadi bisa tanya kayak gitu? Kamu kan masih kecil. Jangan mikir kayak gitu lah”

“Saya kan juga punya pacar. Sama kayak bapak”

“Terus? Terus?”

“Biasanya, kita suka ketemu setelah pulang sekolah. Main. . .. main aja kayak, kayak ada aja yang dikerjain. Dari bikin PR atau enggak ngerjain tugas atau cuman sekedar ngobrol – ngobrol aja. Malahan pernah sampai sekolah itu udah tutup gak ada orang”

“Kamu juga.. .ngelakuin itu juga ya?” Tanya bapak itu

Aku menjawabnya dengan anggukan. Terlihat bapak itu seperti kecewa mendapat jawaban seperti itu. Aku melanjutkan.

“Ya saya merasa aneh aja sih. Seneng aja kalo ada yang megang saya. Aneh kan”

“Memang itu. Memang hal yang sangat aneh. Aku juga merasa ingin selalu sama dia. Ingin bersama – sama dia juga terus. Perempuan itu memang haahhh.. . . .sangat.. .. .huft, entah itu nafsu atau semacamnya. Sehingga akhirnya aku jadi khilaf”

Sampainya di Surabaya. Tidak ada lagi percakapan antara aku dan bapak itu. Setelah aku bangun dari tidurku, sudah tidak menjumpai bapak itu. Mungkin dia sudah duluan. Aku pun keluar dan langsung menemui pacarku yang telah menjemputku. Kami duduk di pinggir sungai melepas rindu.

“Kamu kok berani kesini sendirian?” tanya pacarku

“Berani dong, kan pengen ketemu kamu”

“ciee, jadi terharu nih”

“Kamu sih, pake pindah sekolah”

“Ya mau gimana lagi. Orangtua maunya begitu”

Handphone pacarku berbunyi.

“Eh, telpon tuh”

“Hmm, papa nih. Halo pak, papa udah nyampe yah? Aku lagi diluar bentar pak. Oiya aku mau kenalin seseorang nih. iya pak ketemu dirumah aja deh”

“Ke rumahku yuk. Aku ingin kenalin kamu dengan papa ku”

“Hmm, yuukk”

Aku terima ajakan pacarku kerumahnya untuk diperkenalkan oleh papanya. Aku sedikit gugup, karena ini baru pertama kalinya. Dari stasiun kami naik kendaraan umum. Aku dan pacarku saling bercengkrama. Ketawa bersama.

Setibanya dirumah pacarku ternyata papanya belum datang. Aku sedang duduk di ruang tamu dengan pacarku. Kami sedang ngobrol – ngobrol saja. Ku tengok keluar, ada mobil yang datang ke arah rumah ini. Aku pun memberitahu pacarku.

“Ohh, itu papaku sudah datang”

Aku merapihkan penampilanku. Lalu pergi keluar dan bertemu papa pacarku.

Aku kaget, malu, takut, tidak percaya setelah bertemu papa pacarku.

Ternyata papa pacarku adalah bapak tua tadi yang duduk bersama dan bercerita – cerita dengan aku di kereta!!!



Inspired by: Film pendek 'rahasia'

8 comments:

  1. teruslah menulis, teruslah kembangkan kemampuan .....

    ReplyDelete
  2. waaah, keren ini ceritanya :O

    nggak ada lanjutannya kak?

    ReplyDelete
  3. Gubraaaaaaag berarti..... ckckck..

    ReplyDelete
  4. @MUHAMMAD RIDWAN: Siapp!! komandann!!! laksanakaaann!!!!

    ReplyDelete
  5. @Eva: engga ada eva :) emang sengaja gantung

    ReplyDelete
  6. @Hanya Tulisan: berarti oh berarti

    ReplyDelete
  7. seru nih, kok ngegantung sih.
    lanjutin dong.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...