11 September 2012

Cerpen - Bangku Taman


Aku berjalan diantara lampu taman. Malam ini sangat dingin. Hari ini aku jenuh dengan kerjaan kantor dan semuanya. Tamanlah satu - satunya tempat untuk pelampiasan kejenuhanku. Kupantik korek api di tangan, apinya yang berusaha bangkit karena dihalangi oleh kencangnya angin malam ini. Tanganku menghalangi angin yang berhembus memberikan jalan untuk api bangkit dan menyulutkan rokok di tanganku satunya. Asap rokok menyembul di udara taman, menari bebas diatas sana. Aku hanya bisa memandanginya.

Bangku taman ini setia menungguku di tempat yang sama. "maaf yaa aku jarang menemuimu lagi" Sahutku dalam hati. Meskipun aku menemuinya hanya saat aku jenuh, dia tetap setia berada disitu. Mungkin dia suka nangis ketika kutinggal pergi. Dia bukan makhluk hidup tetapi beberapa potongan kayu yang mungkin tidak  berasal dari satu pohon saja. Dari pohon yang berbeda. Meskipun begitu bangku itu dulunya adalah makhluk hidup yang tumbuh, berkembang, dan bermanfaat. Aku bisa merasakan, ketika perbedaan mereka itu harus disatukan dalam bentuk bangku yang cantik, lalu ditaruh di taman. Aku merebahkan tubuhku diatas bangku cantik ini. Aku memberanikan diri untuk berucap.

"hai lama tidak jumpa"
"kamu kemana saja? aku sudah lama menunggu"
"maafkan aku, aku sibuk"
"sesibuk apa sih kamu?"
"kantor, teman, klien"
"ohh, jika kamu sibuk kenapa bisa menemuiku?"
"aku jenuh"
"lalu kau menemui aku?"
"yaa"

Suara angin mendayu-dayu di telinga. Suasana semakin sepi dan dingin. Sudah jarang yang berlalu-lalang di sekitaran taman. Aku masih asik menatap langit berhias bintang. Aku tarik tanganku untuk menunjuk salah satu bintang yang bercahaya paling terang, lalu kutarik tanganku ke satu sisi ke sisi lainnya sehingga bila disatukan akan menjadi bentuk zodiak diriku.

"bisa kah kau besok kembali lagi?"
"kita lihat saja nanti"
"pasti kau sibuk?"
"tidak tahu"
"aku selalu ada disaat kamu butuhkan, tapi disaat aku inginkan kau hadir kau malah tidak ada"
"kan sudah kubilang tidak tahu, liat saja besok"
"oke"

Awan menutup langit malam ketika itu aku berdiri dari bangku taman. Kupandangi dia sebelum hendak meninggalkan tempat ini. Dia tidak berucap lagi hanya diam dalam dingin nya malam ini. Perlahan aku melangkahkan kakiku meninggalkannya. Aku tau dia pasti sedang melihat diriku. Aku terus menjauh, didalam kegelapan aku menghilang.

Keesokan hari

Pekerjaan hari ini sangat banyak terpaksa aku melembur agar semua pekerjaanku selesai. Sumpek sekali berkutat dengan laporan-laporan ini. Sebentar aku merenggangkan tubuhku, istirahat sejenak. Melihat sekeliling ruangan yang isinya kosong karena karyawan yang lain sudah lebih dulu pulang. Kulihat jam dinding   jarum pendek menunjukkan angka 10 aku menarik napas dalam-dalam. Cukup.
Aku menutup semua berkas, merapikan mejaku kemudian meninggalkannya untuk kembali kerumah. Malam ini seperti biasanya aku melewati taman kota. Tapi aku malas untuk berkunjung, karena badanku lelah sekali. Setelah ini aku berniat untuk mandi dengan air hangat lalu tidur dengan nyenyak.

Kapan hari libur datang keluhku, setiap hari terus saja berkutat dengan berkas-berkas yang memuakkan. Untung saja aku menyelesaikan sebagian laporan yang ada. Jadi hari ini aku bisa sedikit bersantai karena tugas yang tersisa tinggal sedikit. Di luar dugaanku pukul 3 sore semuanya sudah selesai. Aku bergegas meninggalkan kantor. Kulewati taman kota seperti biasanya, saat ini aku belum mau ingin kerumah. Daripada tidak ada kerjaan dirumah lebih baik aku bersantai dulu di taman.
Bangku taman itu tidak berubah sejak aku tinggalkan. Setelah lama berkeliling, aku duduk kembali di bangku taman itu. Aku diam, mulai berkhayal hal-hal yang kadang tidak masuk dengan akal sehat.Tetap diam.

"kenapa baru sekarang?"
"ha? apa maksudmu?"
"kenapa kemarin kau tidak menemuiku?"
"ohh, kemarin aku lembur. Pekerjaanku padat sekali"
"selalu saja pekerjaan yang didahulukan"
"memang itu prioritasku"
"yaahh, aku ini memang hanya pelampiasan untukmu. kesalmu, letihmu, keluhanmu, kalo sudah dapat itu kamu baru menemuiku"
"kenapa? kamu tidak suka?"
"tidak apa-apa. Aku tulus menjadi sandaranmu ketika kau kesal. Kesal karena bosmu memarahimu. Bahkan ketika kau sedih. Sedih karena ulah wanitamu itu"
"baguslah"

"bersyukurlah kau karena tidak memiliki hati"
"meskipun aku hanya dari potongan pohon dan tidak memiliki hati. Aku tetap bisa merasakan sakit"
"tapi menurutku sakitnya hati itu lebih parah dari sakit apapun"
"masa sih?"
"Iya, sering aku lihat mereka mati eh bukan tapi bunuh diri karena sakit hati"
"tragis sekali"
"yaapp, bersyukurlah kau tidak punya hati"

Senja mulai menampakkan dirinya. Diringi dengan kepergiannya yang begitu cepat. Matahari telah selesai mengerjakan tugasnya. Sekarang giliran bulan menggantikan peran matahari di dunia ini. Aku masih asik bercengkrama dengan bangku taman. Orang yang baru pulang dari kantor berlalu-lalang didepanku. Aku cuek saja bila ada orang yang melihatku.

"hei, apa kau tidak marah denganku?"
"marah karena apa?"
"karena kemarin aku tidak menemuimu?"
"ohh..... sudah biasa"
"apa?"
"iya, aku sudah biasa diperlakukan seperti itu"
"ohh..."
"tapi, apa kau tidak bosan karena hanya aku yang menempatimu?"
"kau pikir manusia hanya dirimu? Ketika kau tidak ada banyak orang lain yang berbagi cerita denganku, ada yang bersama pacarnya tapi aku tidak tau pasti apakah itu benar pacarnya atau selingkuhannya, juga bersama anak-anak mereka, mereka semua bermacam-macam yang datang. Tapi yang seperti kau ini, yaaaaa hanya kau seorang"
"ohh.......maafkan aku"
"hahaha Kenapa kamu minta maaf?"
"karena sikapku terhadap dirimu"
"ohh....."

Aku semakin terlarut dengan angan-angan. tidak lama kemudian gelap. Tidak sadar aku tidur di bangku taman. Kulihat waktu di jam tangan jarum pendek menunjukkan angka 12. Aku lelap sekali tidur, mungkin karena kelelahan. Langsung saja aku meninggalkan taman kota untuk kembali kerumah.

Hari minggu. Hari yang ditunggu-tunggu oleh semua karyawan karena mereka bisa melepaskan jeratannya dari tugas kantor yang kusut. Mereka menghabiskan waktunya dengan teman atau keluarganya. Pergi ke suatu tempat, untuk me refresh otak mereka. Tapi aku masih saja berbaring di kamar tidur. Setengah sadar menuju kamar mandi membersihkan rambut yang ada di dagu dan bawah hidung. Merelakan badan yang lemas terguyur air hangat dari shower. Segar.

Headset terpasang di telinga. Alunan lagu Angsa dan serigala - Detik dan waktu menjadi lagu pertama yang ku putar. Hari ini aku tidak ada acara makanya aku berniat untuk pergi ke taman.

Aku langsung mencari bangku taman yang biasa aku kunjungi. Tepatnya dibawah pohon besar yang rindang, sebelah lampu taman. Aku berkeliling dahulu sebelum duduk santai. Melihat anak-anak yang sedang bermain dengan bola, ada sekelompok orang memainkan biola di taman dengan lagu-lagu yang cantik, sampai orang tua yang sibuk mengambil dedaunan yang jatuh dari pohon agar taman terlihat bersih. Ada juga sepasang kekasih yang asik bercanda. Tiba-tiba ada bola jatuh didepanku.

"om, lemparin bolanya dong" teriak anak kecil

Lantas aku langsung mengambil bola itu dan melemparnya ke sekumpulan anak-anak tadi. Aku melanjutkan perjalananku menuju bangku taman yang biasa ku temui. Perlahan aku mendekati tempat bangku taman. Aku masih mendengarkan lagu di ipodku.

Seharusnya aku sudah mendapatkan bangku itu dihadapanku sekarang. Tapi kenapa tidak ada apa-apa? Aku menjadi bingung, aku terus mencari bangku yang setia menemaniku. Disaat aku sedang merasa tersisihkan dari dunia, disaat aku menjadi orang yang tidak berguna, dialah yang mengembalikan kepercayaanku. Tapi mengapa dia tidak ada?

Apa dia meninggalkanku? Rasanya mustahil. Padahal dia yang mengatakan setia!

Aku tidak habis pikir hal yang seperti ini bisa terjadi. Tidak ingin jadi permasalahan batinku aku langsung melupakannya aku mencari bangku taman yang berada dekat denganku. Beda! sangat beda. Perasaan ketika aku menduduki bangku taman tidak biasanya. Tidak ada lagi obrolan saeperti biasanya. Bangku ini hanya diam. Dimana kau? yang selalu membangkitkan bara kepercayaanku? yang selalu memotivasiku? Aku tidak tahan aku bangkit dari bangku ini, ternyata tidak mudah, untuk melupakan sesuatu yang sudah membuat kita nyaman. Aku harus gimana? Jangan-jangan dia pergi karena telah aku sakiti?

Bodoh juga aku yang tidak pernah sadar. Bagi orang lain mungkin hal seperti ini sangat klise, tapi bagiku berbeda. Kemana aku harus bercerita banyak? ketika manusia tidak ingin mendengarnya? sibuk dengan kegiatannya yang belum tentu berguna. Meskipun begitu akupun sama. Apa mungkin aku termasuk salah satunya? Tidak mengerti, bingung, sendiri, diam. Sekarang aku hanya bisa memberikan salam untuk dia yang entah berada dimana dan ucapan selamat, bagi orang yang menemukannya. Jaga dia. Lupakan masa lalunya dengan masa depanmu.




2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...