10 October 2012

Sebuah Perjalanan

5 Oktober 2012


16.45

Langit gelap diselimuti awan tebal hitam, air menetes jarang dari langit. Jalanan dipenuhi kendaraan beroda dua dan 4. Aku dan temanku yang sedang berpacu dengan motornya menyalip rayapan kendaraan yang tersendat. manusia yang tidak sabar ingin bertemu keluarga dirumah sore itu, berdesakan demi lepas dari jeratan kemacetan. Begitu juga aku, ingin cepat-cepat sampai ke terminal bis di jalan soekarno hatta. Perjalananku tidak hanya di sini.


17.36

"thank you bro"
"yoo, sama-sama. hati-hati yaa"
"oke, loe juga bro"
Temenku sudah pergi dengan motornya. Aku berterima kasih padanya karena sudah mau mengantarku sampai di terminal. Itulah gunanya teman, bukan untuk memanfaatkan kelebihan atau materialnya tapi feedback yaang diberikan dari masing-masing orang. Langit berhenti meneteskan airnya, samping kiri dan kanan berjejer bis yang akan mengantarkan banyak manusia ke kota seberang. Aku mencari bis yang ke kota tujuanku, Depok. Daripada menunggu di bis aku duduk dulu di bangku depan toko yang ada di terminal. Aku melihat orang berlalu-lalang dengan kesibukannya masing-masing. disampingku seorang kakek tua berjenggot kulitnya kusam dengan tas panggul yang dibawanya sedang asik menghisap sebatang rokok tatapan matanya sedang mencari bis yang bertuliskan ke kota tujuannya, sama sepertiku. Alunan biola terdengar ditelingaku, aku pikir siapa sore-sore mendekati maghrib begini yang bermain biola? Kupalingkan pandanganku ke kiri, dari sela-sela kepala aku melihat remaja yang sedang menggesekkan senar biolanya. Dia memakai baju hitam dengan rambutnya yang panjang sebahu badannya tidak begitu berisi, tetapi bukan dia saja yang berpakaian seperti itu aku rasa dia bersama teman-temannya atau mungkin mereka adalah kumpulan dari grup musik yang akan pergi ke luar kota untuk mengikuti audisi untuk musik mereka didengar. Kemanapun  mereka, alunan biolanya sangat sejuk ditelinga saat ini. Peglihatanku beralih kepada Seorang anak kecil kulitnya hitam rambutnya kucel sekali membawa kotak yang diatasnya ada lubang yang siap menerima uang recehan. Satu-satu yang duduk dihampirinya, berharap ke-dermawanan dari mereka. Sebelum dia menuju bangku yang aku duduki, aku rogoh kantong celana lalu meraba apakah ada uang disana. Dua ribu rupiah yang ku genggam, anak kecil itu mendatangiku lalu menyodorkan kotak tadi dengan wajah yang memelas. Langsung saja kuselipkan uang yang kugenggam ke lubang yang sempit itu. "terima kasih" ucap anak itu lalu melanjutkan perjalanannya. Tidak lama kemudian suara adzan maghrib berkumandang.


18.13

Aku beranjak dari tempat duduk, bola mataku bergerak untuk memenuhi perintah otak mencari bis bertujuan ke kampung rambutan. Ternyata langit kembali meneteskan airnya. Langit sepenuhnya gelap. Didalam bis masih banyak bangku yang belum ditempati. Kupilih bangku yang tidak terlalu di belakang, tepatnya ditengah. Kulepas bawaanku yang cukup membuat punggungku pegal. Kaca bis dihiasi rintikan air yang jatuh dari langit. Aku melihat keluar kaca, kenek-kenek sibuk mengajak penumpang untuk naik bis tujuannya, demi uang. Satu persatu penumpang yang bertujuan sama denganku menempati bangku yang kosong. Para penjual makanan dan minuman juga mondar-mandir mencari peruntungannya, akupun tertarik untuk membeli. Bukan hanya mereka pengemis juga datang demi uluran tangan penumpang. Aku berpikir, kenapa banyak sekali yang seperti mereka apakah para petinggi negara ini tidak tahu keberadaan mereka? Atau pura-pura tidak tahu.


18.45

Roda berputar perlahan. Bis meninggalkan terminal. Aku mencari headset di tas, benda yang tidak mungkin tertinggal ketika bepergian lalu Kumainkan list lagu di hapeku. Semakin malam hujan semakin deras, malam menjadi pekat gulita. Pengamen asik menyanyikan lagunya tapi aku lebih tertarik dengan lagu di hapeku. Diluar aku melihat orang -orang menunggu redanya hjan. Ada seorang kekasih yang asik berpacaran sambil menunggu hujan reda, didepannya bapak tua asik menghisap rokok untuk mengurangi  dinginnya malam. Di perempatan jalan aku tertegun oleh anak kecil perempuan kesana kemari di trotoar jalan rambutnya yang panjang terkena air melambai-lambai seraya  pergerakannya yang lincah, ditangannya terlihat kain berbusa untuk mengelap motor/mobil yang terhenti karena lampu merah. Dari setiap motor yang dihampirinya tidak ada satupun ulurang tangan dari si pengendara. Meskipun begitu ia tetap tersenyum bersama yang lain, mereka ceria dengan dunianya. Gerbang Tol mulai terlihat tujuan Jakarta. Lagu dalam hape masih menari-nari ditelingaku, aku seperti ditimang-timang oleh musik yang syahdu. Pikiranku kosong, mata tertejam, gelap. Aku tertidur.


19.27

Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena tidur yang sebentar. Sepertinya bis yang kutumpangi tidak jalan, berhenti. Aku melihat sekeliling pinggir jalan hanya ada hutan dan lampu-lampu kendaraan dari jauh. kenek bis dari tadi mondar-mandir kelihatannya ada kerusakan pada mesin itu sebabnya bis ini berhenti. 
_-_
10 menit, bis masih belum menandakan kehidupan, sopir dan kenek sibuk menghidupkan mesin yang masih harus menjalankan tugasnya. 
_-_
25 menit berlalu aku tetap asik mendengarkan lagu didalam bis yang diam. Penumpang yang lain juga masih setia dengan bis ini berdoa agar hidup.
_-_
30 menit lebih sejak roda bis diam. Sopir kembali mengendalikan stir mobil, dicobanya menghidupkan mesin.  Percobaan pertama tidak membuahkan hasil, aku tersentak dengan yang kedua, mobil menabrak pembatas jalan dan mesin hidup. Bis kembali masuk ke jalurnya, perjalanan dilanjutkan.


20.32

Semakin jauh semakin padat saja mobil berkecepatan rendah. Lampu merah belakang mobil terlihat banyak sekali dari luar kaca mungkin ratusan atau ribuan. Aku tidak tahu kenapa terjadi kemacetan panjang malam hari gini, biasanya kalau tidak ada perbaikan jalan atau terjadi kecelakaan. perasaanku mengatakan yang kedua, perlahan bis yang aku tumpangi nyelip di pinggir jalur memaksakan tubuhnya yang besar menyalip mobil kecil lainnya. Aku penasaran ada apa didepan disana, padahal perjalananku masih jauh tapi harus tersendat. Semakin jelas apa yang bikin kemacetan, mobil polisi nangkring di pinggir jalan dengan lampu sirinenya yang menyala, terjadi kecelakaan. Pecahan kaca berhamburan di jalan, semua mata tertuju pada mobil yang penyok dan hancur tidak karuan. Lebih dari dua mobil yang penyok, sepertinyaa telah terjdi tabrakan beruntun. Dari semua mobil yang paling parah adalah mobil pick up, dipastikan pasti sudah meninggal siapapun yang ada disana yang menabrak dari belakang adalah bis besar yaang belakangnya juga hancur, dan depan mobil pick up adalah truk besar pembawa pasir. Hatipun berucap innalillahi.


22.14

Suasana Tol dalam kota telah terasa, sebentar lagi rumah menanti. Malam ini aku menginjakkan kaki di tanah Jakarta semenjak 2 Minggu yang lalu. Tumben sekali cuaca sejuk tidak seperti biasanya apa mungkin musim hujan? Suara perut mengingatkanku bahwa ia belum diberi makanan. Siomay malam hari gini pasti enak lalu aku membeli dari pedagang dipinggir jalan. Aku diberi amanat untuk naik taksi saja oleh orangtuaku, jadi aku memutuskan untuk memberhentikan taksi kosong yang lewat. Tidak membutuhkan waktu lama sebentar lagi aku sampai depan pagar berwarna merah rumahku. Sebelumnya aku pasti menebak, sesosok wanita mulia yang telah membesarkanku yang akan membuka dan menyambut kedatanganku meskipun larut malam begini senyumannya tidak berkurang dan hangat, sebetulnya aku merasa tidak enak tetapi yang bisa aku lakukan adalah membalasnya dengan kecerahan masa depanku, sosok wanita yang aku banggakan itu adalah Ibu. 


5 comments:

  1. gan,kayak cerpen nie heheh. gk dcoba kirim ke koran ? heheh komen back yaw

    ReplyDelete
  2. wah model penulisan elu keren sob, kayak tipe cerpen2 post modern

    ReplyDelete
  3. sepertinya tiap saat liat jam ya :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...