05 February 2013

Cerpen - Petualangan Malam



“teng teng teng”
Suara tiang listrik berbunyi seperti biasanya, tepat pukul 12 malam suara itu menggema di komplek perumahan yang selalu sepi. Gonggongan anjing rumah bernomor 13 juga yang tidak mau kalah. Aku masih berjalan dengan keberanianku. Seorang diri. Suara jangkrik malam semakin membuktikan betapa sepinya malam ini. Sebenarnya tidak biasanya perumahan se-sepi ini, kadang terdengar suara pertengkaran suami istri di rumah nomor 6 blok M. Tapi tidak untuk malam ini, rumah itu kosong. Aku masih tidak mengerti kenapa orang itu menempatkan di tempat seperti ini walaupun begitu aku tetap bersyukur. Sepanjang jalan tidak ada tanda-tanda manusia, kecuali diriku. Aku terus memantapkan langkahku ketika melewati kebun pisang disampingku. Lampu sorot yang ku pegang menerangi seluk pepohonan besar didepan. Aku terus berjalan.
Aku sadar, aku tidak boleh berjalan dengan pikiran kosong. Malam ini membiusku dengan anginnya yang kencang. Seragam malam yang kupakai tidak mampu menahan, seperti menusuk. Anehnya keringat mengalir di pipi, mungkin kepalaku gerah dengan topi yang selalu kupakai setiap malam. Bertuliskan satpam. Aku terdiam di tempatku berada, dari sini aku bisa melihat setengah isi perumahan, karena aku berada didataran tinggi. Dari jauh aku melihat seperti bayangan, ah sudahlah mungkin saja itu bayangan pohon yang kena angin saja. Aku terus memantau.

“ten teng teng teng”
Suara itu muncul lagi, aku semakin heran bersamaan bayangan satu jam yang lalu. Tapi ditempat yang berbeda? hmm, mungkin saja itu yang lainnya. Aku terus berjaga agar semuanya aman terkendali, tidak ada keributan, tidak ada yang kecolongan, dan tidak ada yang di rugikan. Mataku harus jeli dengan semuanya yang ada di perumahan ini, bayangan tadi terngiang di pikiranku. Malam semakin larut, kopi panas menemaniku di pos ronda. Sesekali orang pulang kerja melewati pos dan aku menyapanya. Daripada diam dan bosan, aku kembali jalan – jalan mengitari perumahan. Seperti biasa, tidak ada kehidupan sepanjang jalan. Aku baru ingat aku belum berjaga di blok G yang harus menanjak bila kesana. Itung – itung olahraga malam melewati jalanan menanjak pikirku. Langit malam ini sangat kelabu, awan menutupi bulan yang biasanya menerangi jalan. Terlihat burung hantu terbang seperti membelah angin kencang, tiba – tiba bulu kuduk serasa berdiri. Hmm, mungkin hanya perasaanku saja. Oh iya, hari ini adalah jumat. Aku terus melanjutkan perjalananku ke blok K.
Daripada tidak ada kerjaan aku dengarkan musik saja, sambil berjaga – jaga. Burung hantu tadi keren sekali, andai aku memilikinya.
“teng teng teng teng teng”
Suara yang sama satu jam dan dua jam yang lalu. Padahal aku sedang mendengarkan musik, kenapa masih terdengar? Aneh. Aku curiga dan beranjak dari tempatku sebaiknya aku berjalan – jalan dari kerumunan ini.

Hoaaahh... akhirnya sampai juga di blok K lumayan juga nanjaknya pikirku. Semakin terasa hembusan angin malam ini. Bulu kudukku tidak berhenti berdiri sejak tadi aakkhh cuek sajalah aku melihat – lihat sekitar rumah – rumah besar terpampang di pinggir jalanan, ternyata disini masih sepi belum ada yang membeli apa mungkin baru yah? Sepertinya sih. Aku lanjutkan perjalanku. Selama perjalanan aku merasa seperti ada yang melihatku dari arah jendela rumah, kadang aku memberanikan diri melihat balik tetapi tidak ada apa – apa. Di zaman modern gini gak mungkin ada setan, udahlah aku tidak memperdulikannya. Aku masih mencari bayangan tadi dan darimana suara itu muncul. Sial! Pasti ada yang aneh di sekitar sini, tapi mengapa yang lain tidak ada yang menyadari? Apa hanya aku saja?
“lalala syalalala”
Haahhh! Suara itu? Dari arah sana. Aku akan tangkap keanehan ini, lihat saja! Aku lihat sekeliling tapi belum mendapatkan apa yang aku mau. Aku saat ini berada di tempatku semula masih belum ada hal – hal yang aneh terjadi. Tapi suara nyanyian masih menggema. Meskipun malam ini sangat ramai entah kenapa suara itu terdengar jelas di telingaku. Ah, suara itu hilang hmm aku melihat bayangan dari arah yang lumayan jauh, siapa itu?
Seram juga, rumah – rumah disini kosong semua, pikirku. Pasti ada penunggunya karena mitosnya kalo ada rumah yang kosong pasti ada makhluk halus didalamnya. Pikiranku jadi kalut, aku ketakutan. Aaaaa!!! Aku sedikit teriak karena terkejut, sekilas aku melihat bayangan besar di ujung jalan, ah mungkin halusinasiku saja lebih baik aku kembali ke pos. Dengan rasa takut aku kembali jalan ke pos. Bayangan yang tadi aku lihat semakin mendekatiku, aku masih tidak bisa melihat perwujudannya. Aku bersiap dengan peganganku, jaga – jaga kalo dia tiba – tiba menyerang. Semakin kesini wujudnya semakin jelas, aku penasaran. Bulu kudukku semakin tegang berdiri, sebentar lagi aku akan melewati dimana bayangan besar itu muncul. Aku terus memegang tongkat satpam dengan erat. Perasaan seperti ada yang melihat tidak kunjung pergi, bahkan bertambah parah ketika aku berbalik seperti ada yang mengikutiku tetapi hanya gelap dan suara angin. Keringatku jatuh tidak karuan, sial padahal malam ini anginnya kencang apa karena setan yaahh? Kaki rasanya ingin lari sekencang – kencangnya, tapi apa daya terasa berat untuk melangkah, aku ketakutan sekali. Sepertinya aku salah mengunjungi blok K.

Aneh, kenapa ada anak kecil yang bermain di kaki bayangan itu? Aku yakin pasti dia si pengganggu itu. Hahaha rasakan saja kalo memang benar. Andaikan perjanjian lama itu tidak kau langgar pasti aku dan teman – temanku tidak akan berprilaku seperti itu. Hmm, tapi apakah benar dia si pengganggu? Ah iya, aku ingat di saat seperti ini lebih baik jangan takut. Karena kalo semakin takut maka akan semakin jadi. Huft, baiklah kalo begitu sebaiknya aku memberanikan diri! Ayooo penunggu disini aku tidak takut dengan kalian. Aku yakin dengan keyakinanku, aku tidak takut!! Haahh?? Bayangan itu hilang kemana perginya dia? Ah! Aku kehilangan, tidak, aku yakin dia masih disekitar sini semua yang kulihat sekeliling, tidak nampak bayangan itu. Perlahan tapi pasti, aku melewati tempat dimana bayangan besar itu muncul. Ternyata benar, dalam menghadapi hal seperti ini tinggal perlu menunjukkan keberanian. Keringat yang mengalir tidak lagi banyak, aku lega. Tetapi rasa takut menghampiri lagi, perasaan yang tidak enak itu muncul. Aku masih melihat sekitar kenapa bayangan itu hilang? Aku membalikkan badan dan itu dia bayangan tadi. Sial, aku tidak akan kehilangannya lagi akan ku kejar dia. Aku membalikkan badan ke tempat tadi dan bayangan besar itu seperti melayang mengejarku!!!! Aaakkhh!!!! Keberanianku sudah habis, langsung saja aku lari sekencang – kencangnya dari bayangan besar itu. Sungguh aku takut sekali, kalaupun teriak tidak mungkin diriku ini teriak malah akan mengganggu orang – orang perumahan. Sebaiknya aku terus berlari saja sampai ke pos.

Sial!!! Bayangan itu juga lari, bahkan larinya sangat kencang. Aku tidak boleh kalah akan kutangkap kau sebelum keluar dari jangkauanku. Hah hah hah, aku terus berlari tidak mau melihat kebelakang. Masih ada beberapa blok lagi hingga aku sampai ke pos, sial kenapa terasa lama sekali. Aakkhh!! Kenapa tidak terkejar bayangan itu, dikit lagi dia akan keluar dari jangkauanku. Aku harus meningkatkan kecepatan. Aahhh, aku lega pos sudah terlihat aku melihat sepintas dari kaca mobil bayangan besar itu tepat berada dibelakangku! Gawat aku akan tertangkap. Yaakk, sedikit lagi kakinya akan berada di genggamanku. Akhirnya aku sampai juga di posku, aku melihat balik dan ternyata tidak ada apa – apa mungkin saja sudah tidak ada lagi bayangan besar itu. Tidak lama kemudian adzan shubuh berkumandang, aku siap – siap untuk membuka portal – portal yang sebelumnya aku gembok. Setelah itu aku kembali kerumah untuk istirahat.

Aku terbangun dari tidurku, aku teringat ada sesuatu yang tertinggal di pos. Baru keluar rumah aku merasa sepi sekali di lingkungan rumahku. Setiap langkahku jalan seperti ada yang janggal, kaki kiriku terasa sedikit berat. Seperti ada yang menggenggam. Hmm, apa mungkin karena lari semalem yah? Sudahlah lupakan saja.

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...