15 March 2013

Cerpen Gue - Cerita tentang Vero dan Rian

"Halooo, kamu dimana?"
"Aku masih ngerjain project sayang, kenapa?"
"Kenapa.. kenapa.. jemput aku sekarang juga! gimana sih kamu"
"Loh emang kamu dimana?"
"Aku di Mall biasanya, udah ih cepetan jemput!"
"Tapi.."
"Tinggal jemput doang susah amet sih kamu!"
"Okee.. okee.. tunggu yaahh"

30 menit berlalu sejak Vero menelpon pacarnya Rian. Sudah lama mereka menjadi sepasang kekasih sejak perkuliahan awal. Hingga kini mereka tetap mempertahankan hubungannya. Persetujuan masing - masing orangtua sudah mereka pegang ketika itu mereka yakin akan hidup bersama selamanya. Cincin pun sudah melingkar di jari - jari manis mereka. Betapa indah perayaan tunangan mereka, semua hadir mengucapkan selamat kepada Rian dan Vero. Rasa bahagia bisa dirasakan oleh keluarga mereka. Rian kini harus pintar membagi waktu antara pekerjaannya dan perencanaan nikah yang tinggal menghitung minggu. 

Vero masih tetap menunggu kehadiran rian sore itu. Tidak seperti biasanya dia selalu bilang ke Rian kalo pergi kemana - mana tapi kali ini tidak. Rasa kesal bisa ditebak di raut wajah Vero, setiap detik dia selalu melihat jam tangannya. Mondar mandir di depan Mall berharap mobil berwarna putih susu segera datang dan Rian didalamnya. Senja mulai pamit dari cakrawala, malam akan muncul menandakan lebih dari 2 jam seorang wanita mondar mandir di depan Mall. Akibat emosi yang menumpuk dia memanggil taksi dan memutuskan untuk pulang dengan taksi. Sesampainya di rumah Vero meluapkan emosinya dengan mencaci maki segala yang ada di kamarnya sendiri. Dia mencoba menghubungi orang yang membuat dia kesal tapi tidak diangkat kadang jawaban dari provider bahwa nomor itu sedang sibuk. Dia semakin geram, merasa ada penyesalan dengan cincin yang melingkar di jari manis. Dia lepas cincin itu, dengan emosi penuh dia melemparkannya ke tembok pojok ruangan. Hari ini Vero merasa lelah sering kali dia menghembuskan nafas panjang, perlahan matanya tertutup. Dia ingin pergi saja dari dunia yang selalu membuatnya kesal, tapi kenyataannya hanya karena orang yang dia sayangi. Kadang Vero berpikir kalo sifatnya ini berlebihan dibandingkan dengan perempuan lain oleh karena itu dia beruntung mendapatkan Rian yang mau menerima dia. Pertemuan mereka memang singkat, pertama kali Vero kenal Rian adalah ketika Sinta temannya Vero memberitahu dia kalo ada teman laki - laki yang sedang single mendengar hal itu Vero semangat kebetulan Vero juga lagi sendiri, tanpa basa - basi dia meminta kontaknya. Hingga pada suatu hari tuhan memberikan izin kepada mereka berdua untuk bertemu, di Mall lah pertama kalinya Vero melihat Rian. Hingga sampai saat ini cincin sudah melingkar di jari manis mereka. 

Mimpi yang indah ini mengingatkan Vero terhadap kenangan manis dengan Rian. Tidak ada yang bisa mengalahkan canda tawa mereka di dunia ini. Meskipun hanya mereka yang mengakuinya. Perlahan vero membuka mata, lelah yang dirasakan membuat dia tertidur sejenak. Kembali dia menyusun rangkaian mimpi yang membuat dia tersenyum. Dia teringat cincin yang dia lempar keras ke tembok setelah diambil dan diperhatikan ternyata cincin tersebut tidak apa - apa, dia bersyukur dan memasangkan kembali di jari manisnya. Dia mencoba menelpon Rian tapi kali ini tidak dengan perasaan emosi, masih sama saja tidak diangkat dan jawaban dari provider. Semakin penasaran kenapa Rian tidak bisa dihubungi Vero mencoba menelpon mertuanya 

"Halooo bu.. kok Rian gak bisa dihubungi yaa bu?"
"Dek vero.."

Vero kaget dengan jawaban mertuanya karena seperti terisak menangis. Entah kenapa perasaan Vero menjadi tidak enak. Takut terjadi apa - apa terhadap Rian, tapi dia berusaha menepis rasa itu.

"Dek Vero.. Rian... kena kecelakaan tadi sore... "

Jawaban beserta isak tangis dari suara telepon Vero membuat dia terdiam. Tanpa sadar air mata menetes hanyut di pipi Vero. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan saat ini hanya bisa menerima dengan diam dan pasrah, ketidak percayaan terhadap kenyataan yang pahit. Seorang yang dicintai menghilang tanpa pamit, belum sempat untuk melihat senyum yang selalu membuat dia semangat menjalani hidup.  Segalanya hilang menjadi debu.
-Fiksi



Gantung yahh?? hehehe yaa emang tujuan gue buat cerpennya begitu sih.. tapiiiiiiiii emang yang kayak gini kadang ada, hal - hal yang kecil tapi kalo mengalami kesalahan ujungnya bisa menjadi besar :) so berhati - hatilah dalam bersikap. Intinya jaga ego kita :D dadaaaaaahhh~ #MaafSokBijak




3 comments:

  1. hoho....
    ending ceritanya hampir sama kayak cerpenku yang ini, hanya saja kalo cerpenku itu yg mati si ceweknya...

    ReplyDelete
  2. kenapa selalu berakhir menyedihkan meskipun nanggung? T.T *uwooo

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...