12 May 2013

Cerpen Gue - Rahasia.



Kau masih enggan menatap diriku. Aku bisa melihat rona kegelisahan di lekuk wajahmu. Kita masih saling diam. Mengapa kau tidak ingin bercerita? Ketakutanku akan kehilangan sedang menyerang pikiranku. Mungkin kau anggap ini hanya bualan, buang – buang waktu. Seberapa lapang hatimu untung seseorang? Aku seperti orang yang dijahit mulutnya. Kau masih saja duduk dengan ketidaknyamanan. Terlihat ada sesuatu di balik mulutmu itu. Aku tidak tahu apakah itu. Apa aku harus paksa buka mulutmu yang kaku itu? Hei kekasih kita sudah cukup lama berbagi cerita, semua rasa telah kita lalui berdua. Ada apa dengan kau kali ini? Aku menunggu.

Hujan terdengar parau dari dalam sini. Seperti mengurung kita di dalam suram. Apakah ini akhir dari segalanya? Ayolah aku sudah berkata “ceritalah sayang?” tidakkah mawar itu cantik diatas meja kita, bukankah kau menciumi wanginya? Mengapa kau tetap bungkam? Apa aku harus berbsik ke telingamu agar semua ceritamu tidak terdengar oleh orang lain? Aku ini kekasihmu, masa kau tidak ingin bercerita kekasih. Bila dengan bisikan kau tetap bungkam mungkinkah aku berteriak sekencang – kencangnya? Agar kau terdorong untuk bercerita dengan seluruh pasang mata menyorotimu? Agar mereka tahu ada apa dibalik hatimu sehinggu sulit untuk diungkapkan. Kekasih aku lelah dengan obrolan ini indahnya bulan masih kalah dengan rahasia yang kau pegang.

Kan ku jabat jemarimu kekasih. Setiap belaian kau tahu adalah cinta. Air mata tidak bisa kau elak, jatuh perlahan terlihat perih mengalir di pipimu. Aku bisa merasakan. Kita didalam kegelisahan kekasih, aku terhanyut dengan apa yang kau perbuat. Getaran bibirmu, tidak sanggup aku melerai. Matamu tetap enggan bertemu dengan mata milikku. Obrolan singkat ini akan panjang bila kau tidak memulai. Aku seperti merindu suaramu lebih dari sewindu. Kau tega sekali kekasih, aku tetap menunggu. Menunggu rahasiamu.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...