07 July 2013

Hari Minggu Malam



Apa yang kau rasakan ketika menikmati alam. Tersadar bahwa aku ini hanya sebuah daging yang bernyawa. Keindahan yang tersaji di depan mata sangat tepat disuguhi oleh secangkir kopi panas. Pagi itu di bukit Moko jauh dari hiruk pikuk kota. Semua penat yang membuat orang merangkak meminta kasih. Tidak ada kata yang tepat untuk menjelaskan entah aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang aku tulis. Iringan lagu kita bersama menghidupkan kesunyian sebuah hutan yang besar menghangat pembuluh darah dari angin yang tidak bersahabat. Kita menikmatinya bersama. Dsini kita memperat kembali tali pertemanan yang agaknya longgar, atau mungkin melepasnya lalu menggantikannya dengan tali persahabatan. Jadi, apakah persahabatan sama dengan cinta? Sedikit melenceng memang ini. Oh tidak, tapi sepertinya sudah jauh. Keindahan alam banting setir ke cinta, hmm bagaimana dengan menikmati keindahan alam bersama cinta? Cinta disini tentu saja bukan alam. Sebuah cinta yang tercipta ketika ada sebuah ketertarikan kepada lawan jenis. Kalo yang sama jenis apakah sebuah cinta juga? Haha sudah lah aku tidak memikirkan hal seperti itu.
Pemandangan indah di pagi itu memang kurang dengan kehadiran seorang yang kita cintai, ayolah setiap detiknya pasti akan berkualitas. Bagaimana dengan ditemani oleh sahabat atau teman yang justru mereka adalah yang lebih membuatmu tertawa. Aku hanya bisa katakan, bersyukur. Segala hal yang negatif itu akan hilang seperti kita berkenalan lagi. Alam itu mempersatukan setiap orang, tapi ya tergantung tujuan orangnya seperti apa. Persetan bagi mereka yang memperalat alam. Bukan hanya di alam jenis ini aku merasakan terbang. Daratan rendah juga terkadang lebih asik untuk dinikmati. Apalagi putihnya pasir pantai dan birunya lautan. Tidak ada pemandangan jelek sampah – sampah dari manusia. Yaa aku juga manusia, tapi setidaknya aku berusaha untuk tidak mencemar lingkungan meskipun susah – susah gampang. Ayolah nikmati alam mu ini sebelum dihancurkan oleh manusia yang biadab, yang hanya mementingkan angka. Mengapa angka? Yaapp, angka yang ada di lembar kertas kecil dan memiliki nilai yang kita sebut uang. Mereka menghancurkan alam hanya untuk memperoleh angka, semakin banyak angka yang diperoleh semakin hancur. Apakah kita bisa menghentikannya? Bisa. Tapi bila tanpa kedudukan kita hanya akan ditertawakan, mustahil. Huaaahh, sepertinya aku membuang waktu dengan membuat tulisan ini. Tidak apa lah setidaknya aku bisa menjelaskan apa yang sedang ada di hati. Sejujurnya, aku rindu.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...