15 January 2014

Indah Hari itu

Matahari pagi mulai menerangi cakrawala. Debur ombak terdengar jelas dari arah pantai. Aku teringat diriku yang sedang berwisata.

“Bangun sayaaang, masa kalah kamu sama matahari. Aku aja bangun duluan dari matahari”


aku hanya tersenyum diatas tempat tidurku. Hanya suara ombak dan suara burung laut yang menghiasi telingaku. Jauh dari bunyi klakson kendaraan ibu kota, yang tidak sabar lepas dari jeratan macetnya. Tidak ada keluhan dari teman kantor karena proposal yang ditolak oleh bos. Udara pantai yang khas sekali berbanding dengan polusi perkotaan yang menimbulkan penyakit. Kini hanya aku dan kamu. Melepas penat kita, berdua saja.

Aku mencoba berdiri dari kasur melihat matahari setengah dari lautan lepas. Aku hampiri kekasihku di dapur. Kupeluk dia dari belakang.

“Hmm baunya harum sekali sayang” dia membalikkan badannya

“Iya dong, aku lagi masak roti bakar dan omelette special buat jagoanku” dia mencium bibirku

“Haha kamu emang tau kesukaan aku, yaudah aku ke teras yah. Kapan lagi menikmati birunya laut di hari yang cerah ini.. Oiya tolong buatkan aku kopi juga yaa.”

“Okee siap pak kapten!” aku tersenyum dengan tingkahnya, kucium keningnya lalu pergi.

Aku teringat pernikahanku. Baru 9 bulan yang lalu kami mengucapkan sumpah. Janji. Semua itu dibalut oleh kesetiaan. Abadi. Pasti akan ku jaga. Entah aku lupa lagi kapan aku mulai tertarik denganmu Jeni. Waktu itu sudah lama sekali. Tapi aku ingat kali terakhir kau menangis. Aku sangat menyesali hari itu, aku bodoh mau saja dijebak dengan wanita bajingan itu. Seharusnya aku mempercayaimu. Aku tidak akan membuatmu menangis lagi. Aku benci melihatmu menangis. Aku...

“Hayooo!!! Lagi mikirin apa? Mukanya serius banget kamu, awas nanti cepet tua loh”

“Hadeuuuhh kamu ini ngagetin ajaaa, orang lagi asik – asik menikmati alam juga yeeee”

“Hahaha iya maaf sayaangg, nih ini roti bakarnya dan ini kopinya selamat menikmatiiii”

“Loh kamu engga minum kopi juga? Tumben bikin teh”

“Iya dong, bosen kopi mulu. Eh, abis ini kita sepedaan yaa”

“Sepedaan? Tapi kan engga ada jok belakangnya sayang” aku sambil menikmati hidangan

“Hmmm aku di depan ajaaaa ya ya yaaaaa”

“Haaahh oke oke”

Kami bercengkrama sambil menikmati minuman masing masing. Jeni cantik sekali dengan pancaran matahari di wajahnya. Beruntung aku memilikinya. Meskipun agak ‘ngos – ngosan’ waktu itu hehehe hingga akhirnya kami mendapatkan restu dari orangtua. Aku akan berjanji pada diriku sendiri untuk membuatmu selalu bahagia... jeni. Kopiku sudah tinggal berbekas ampasnya, aku lekas menarik tangan jeni

“Eh eh teh ku belom abis niiiiiihh!”

“Halaahh udah taruh aja dulu, pasir pantai udah nungguin kita dari tadi tuh yuk!”

Jeni membalasnya dengan senyuman. Kuambil sepeda dari garasi rumah. Benar apa kataku jok belakangnya tidak ada. Jeni pun kubonceng di depan. Kami menyusuri pantai pagi ini. Kadang aku mencuri – curi untuk menghirup wangi rambut Jeni sampai – sampai aku hilang kendali dan kami pun terjatuh! Kami tertawa bersama. Kucoba lagi menaiki sepeda, perlahan aku menaikkan tempo mengkayuhku, semakin cepat aku kayuh pedal sepeda, sangat bahagia melihat Jeni tertawa senang seakan berhamburan. Langit pun seraya tertawa bersama kami. Indah sekali hari ini.

Dibawah pohon kami berhenti, melepas lelah setelah banyak tertawa. Keringat bercucuran di wajahku. Jeni pun sigap menyeka keringatku.

“Terimakasih sayang”

“Kembali kasih hehe”

“Balapan yuk!” Ajak Jeni

“Balapan apa?”

“Kita balapan lari siapa yang paling duluan ke laut” sambil menunjuk kearah laut

“Terus yang menang dapet apa?” aku tersenyum meledek

“Yang menang? Hmmm ah iya, yang menang digendong sama yang kalah sampai balik kerumah”

Aku menaikkan alisku menatap ragu Jeni, tapi dia menatap dengan wajah yakin.

“Oke boleh! Siapa takut! Aku hitung sampai tiga mulai yah. Satu.. duaaa... ”

Belum sampai hitungan ke tiga Jeni mencuri start lebih dulu.

“Heh curang kamuuu.. awas yaaa hahaha”

“Weeeeeee..”

Haha dasar dalam hatiku. Aku berusaha mengejar Jeni. Cepat juga larinya pikirku. Baru di laut aku bisa meraihnya. Langsung saja aku peluk dia dan kami jatuh diatas ombak. Kami tertawa bersama, bercanda seperti kembali ke masa kecil. Seperti sudah lama tidak menyentuh air laut. Sampai kami terjatuh dan wajah kami saling berhadapan. Perlahan tapi pasti wajah kami semakin dekat. Tidak peduli dengan burung yang melayang diatas kami, pohon – pohon yang melambai – lambai karena angin kencang. Wajah kami sangat berdekatan, aku tersenyum Jeni pun membalasnya. Kemudian dia menutup kedua matanya. Aku pun memeluknya erat dan semakin dekat. Lalu tiba – tiba ombak besar menyapu kami. Byuurr!

Kami pun tersedak karena kemasukkan air laut. Setelah itu kami tertawa bersama lagi. Dibalut kebahagian yang kami ciptakan. Aku mengajaknya kembali ke bawah pohon tempat istirahat tadi.

“Yeee aku yang menaaanggg!”

“Ah curang kamu”

“Biarin weeee!”

“Berarti aku gendong kamu entar pulang kerumah?”

“Iya dooongg kan udah janji tadi wooo!”

“Dasaaarrr!” aku mencubit hidungnya

“Adu duuhh aku enggak bisa nafas tauuu!”

Tidak terasa langit menunjukkan senjanya. Aku dan jeni hanya duduk diam menikmati lukisan alam sang pencipta. Aku melihat Jeni di bahuku dan tersenyum.

“Aku enggak menyangka” ucap Jeni dari bahuku

“Enggak menyangka kenapa sayang?”

“Iya kita bisa satu” Aku hanya tersenyum.

“Padahal dulu... inget enggak? Papaku sangat benci lihat penampilan kamu. Katanya urakan lah, anak enggak bener lah hahaha lucu” Aku kembali hanya tersenyum

“Tapi aku kagum sama keberanian kamu. Kok nekad melamar aku, padahal kan aku dulu sempat dijodohkan. Heran sekarang kan bukan lagi jaman Siti Nurbaya masih saja di jodoh – jodohkan. Belum tentu kan itu pria bakalan setia. Mungkin kalo aku terima, aku sedang tidak berada disini. Di suatu tempat yang pasti itu bukan bersama kamu dan aku tidak bisa bayangin bagaimana keadaanku. Mungkin saja aku kena KDRT atau menunggu suami yang sedang kerja, yang pasti tidak akan se bahagia ini.”

“Masa? Bohong ah hehe” sautku

“Ihh dasarrrr!” Jeni mencubit perutku

“Aduh sakit tauuuu”

“Biarin...”

“Udah malam.. pulang yuk” ajak ku

“Okee kapten siap. Jangan lupa ya yang kalah harus gendong yang menang hehehe”

“Masih inget aja kamu”

Aku pun menggendong Jeni. Sesampai dirumah Jeni tertidur ketika ku gendong. Pasti dia sangat lelah sampai tertidur begitu.

“Hei bangun.. bangun. Kita udah sampai rumah”

“Emmmm masa sih? Wah aku tertidur yah. Maaf ya sayang hehehe”

“Yaudah cepet kamu bersihin badan dulu. Baru abis itu enak deh istirahat”

“Okeee siaapp kapten” Jeni mencium pipiku lalu pergi ke kamar mandi

Aku menunggu di teras rumah. Sambil menikmati langit yang berhamburan bintang hari ini benar – benar cerah sekali. Di kota jarang sekali aku melihat bintang yang sangat jelas. Rasanya ingin pindah saja kesini. Jauh dari kota hanya ada aku dan Jeni. Terdengar suara Jeni memanggil untuk bergilir membersihkan badan. Selesai aku mandi Jeni sudah menyiapkan hidangan makan malam. Makanan malam ini tidak semewah seperti di kota, sederhana tapi begitu nikmat dibandingkan di kota. Aku bersyukur. Setelah makan aku mengajak Jeni keluar rumah untuk menikmati langit malam ini, sayang apabila dilewatkan. Aku berusaha sok tau menunjuk rasi bintang yang kutau. Entah itu benar atau tidak tapi Jeni sepertinya menyukai ke sok tauan diriku.

“Bintangnya indah ya” ucap Jeni memecah kesunyian

“Iya seperti kamu”

“Ah gombal”

“Dikit”

“Pulang yuk. Udah mulai dingin”


Aku dan Jeni kembali kerumah. Ternyata sebentar lagi sudah jam 12 malam. Hari ini sangat lelah bercampur bahagia. Mungkin perasaan ini dirasakan juga sama Jeni. Langsung saja kami menuju tempat tidur. Beristirahat dan memulihkan badan lagi untuk bersiap hari esok. Kupeluk Jeni dari belakang. Erat. Sangat erat. Aku tidak ingin kehilangan dirinya. Sampai berjumpa lagi besok, jeni.

-Fiksi

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...