23 March 2015

Chapter #2

Hari pertama. Aku jatuh dari ketinggian. Aku masih hidup. Tidak ada darah yang keluar. Semuanya aman. Aku masih terbaring di kasur yang nyaman. Bukan batu karang laut yang tajam. Tangan dan kakiku masih bisa digerakkan. Apa jadinya bila sudah jatuh dari ketinggian seperti itu. Tiga meter saja mungkin aku sudah remuk. Beruntungnya lagi, aku masih bisa merasakan nafas dalam diriku.

Hari kedua. Tidak ada yang terjadi. Hanya cerita seperti biasanya. Absurd memang. Tetapi aku menikmatinya.

Hari ketiga. Aku mengendarai motor kesayanganku. Melaju sangat kencang tidak memperdulikan ada apa didepan. Jelas, aku sedang diburu. Entah siapa mereka. Tetapi senjata tajam ada dimana - mana. Aku tidak sedang dikota atau di desa. Tetapi di sebuah kaki gunung, bukit lebih tepatnya. Jalanan berliku - liku. Jurang curam tinggi sangat sering ditemui. Tidak tahu apa yang aku pikirkan. Aku hanya takut. Kendaran orang yang membawa senjata tajam semakin kencang, samurainya bisa mengenai jok belakangku. Aku semakin memacu kendaraan tanpa melihat kedepan. Jurang tinggi menungguku disana. Aku tidak bisa mengendalikan motorku. Akhirnya terhempas lah dari jalanan. Aku bisa merasakan ketakutan ketika melihat kebawah. Rerumputan. 20 meter mungkin lebih. Gravitasi bumi mendorongku ke bawah. Aku pejamkan mata ketika hendak berbenturan dengan rerumputan itu. Gelap.

Tidak seperti hari pertama. Bukan diatas kasur yang nyaman. Aku tidak bisa merasakan nafasku sendiri. Bedanya seluruh badanku masih bisa digerakkan. Aku tersadar aku tidak berada dalam ruanganku. Aku tidur diatas tanah. Entah ini ada dimana. Perlahan - lahan cahaya menyinari sekelilingku. Ini seperti rumah. Aku mencoba mencari tahu sedang berada dimana. Benar sekali aku dalam suatu rumah. Terdengar suara tertawa dan seperti orang mengobrol. Aku tebak sekitar 4-5 orang. Aku penasaran dan mencari sumber suara tersebut. Suara itu terdengar dari belakang, mungkin di dapur atau ruang makan. Ketika semakin dekat dengan suara, akhirnya aku bisa melihatnya. Terkejut sekali dengan apa yang aku lihat. Mereka adalah saudara - saudaraku yang terlebih dahulu meninggalkanku. Tetapi ada beberapa orang yang tidak aku ketahui. Oh iya, aku kan habis jatuh dari jurang pikirku. Bagaimana aku bisa sampai disini? Seharusnya aku sudah mati bila tidak berada dikasur. Jangan - jangan ini surga? Akh, sudahlah aku akan menanyakan dengan orang - orang itu. Mereka sedikit terkejut dengan kehadiranku, tetapi menyambutku dengan sangat hangat. Hangat yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya dan juga lembut. Lembut ini mungkin lebih lembut dan halus dari kain sutra. Spontan aku memeluk mereka satu - satu. Air mataku tidak bisa aku tahan terjatuh. Aku semakin yakin ini adalah surga. Atau mungkin semacam ruang tunggu sebelum datangnya hari akhir.

Aku terbangun. Tidak lagi diruangan tadi. Nafas bisa aku rasakan sekarang.

3 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...