28 October 2011

Cerpen - Inikah Anak Jalanan?



Baik buruknya ini cerpen hanya pembaca yang menentukan :D


Selamat membacaaaaa.. . . ..  .. . .

Inikah Anak Jalanan?



           Merdu. Nyanyian burung kian manis di pagi hari yang sunyi. Matahari mengintip di balik keagungannya yang besar. Perlahan beranikan diri membuktikkan kebesaran yang megah. Hangat pagi merasuki tubuh dan memanjakan permukaan kulit. Kutarik dalam-dalam udara segar agar menelusuk hidung. Hari libur paling menyenangkan melemaskan badan. Waktu tidak memungkinkan bersantai-santai lebih lanjut. Mengingat segunung tugas menunggu untuk diraba dan dicoba. Ku buka isi otakku. Meliput anak jalanan adalah file otak yang belum di tanggung. Bertambahlahi file karena ulah dosen.
       Air pagi mempersegar tubuh. Dingin. Ku persiapkan barang-barang yang dibutuhkan selama aku bekerja. Matang untuk melihat kehidupan sekelompok nista bagi orang-orang. Kadang hatikupun demikian. Minggu lalu hal semacam ini berharap dirancang sukses. Aku bertanya pada jiwaku ini.”Apa sanggup bersama mereka?”. “Satu hari satu malam.”.Hari inilah jawaban dari semua pertanyaan yang ada disini. Hati. Orangtua menyemangati apa yang kulakukan. Bermodalkan tas berisi seadanya dan uang secukupnya semaki tertantang saja dibuatnya.
        Gedung-gedung menjulang tinggi menghiasitanah ibu kota tercinta. Terpampang dari sisi kiri kanan angkutan umum. Sekian berubah menjaditempat kumuh. Bangunan diperkuat balok seadanya dan seng berkarat menyempurnakan sisi atap. Mengenaskan bila dilihat mata hati manusia. Macam apa dia yang tinggal diasana. Lima ribu rupiah adalah tanda terima kasihku pada sopir yang telah memberikan jasa ke semua orang di Jakarta.
           Tempatku berdiri terletak dari beberapa meter ke tempat tujuan. Perlahan demi perlahan jejak kaki ku buat ditanah lembab. Bau tak sedap hadir di penciumanku. Pemukiman yng kumuh. Rel kereta api terpampang di rumah mereka yang berjarak tiga meter dari sini. Anak – anak kecil asik bermain bersama teman sebayanya. Tidak habis piker tempat kotor nan sedih dan kumuh ini masih ada keceriaan di dalamnya. Bagaikan lukisan cantik bergantung di dinding yang keropos. Sampailah aku di depan bangunan kecil amat sederhana. Tidak lebih sederhana. Pintu tertutup rapat lalu aku mengetuknya. Sesaat. Keluarlah sesosok anak kecil berumur dua belas tahun. Berpakaian ala kadarnya.
Wajah hitam kucel itu tidak sanggup mengalahkan indahnya senyuman terpancar dari perawakannya. Kubalas hangat senyum itu. Lalu kusapa.
           “ Hi, apa kabar? Gimana hari ini bisa kakak rekam?”
           “ Pasti dong kak. Berasa artis nih. Hehe.” Sahut dia penuh keceriaan.
           “ Ya udah, kakak nitip barang – barang di rumah kamu yah.”
           “ Ok. Taruh di kamar aku saja.”
         Matahari mulai tegak di langit biru. Pekerjaanku segera dimulai. Dia. Adalah dari sekian anak jalanan yang menaruh takdir hidupnya di jalanan lepas. Namun dibalik itu ada rahasia sangat dalam mengundang. Kutekan tombol play pada handycam kuarahkan lensa ke dia. Gelagak tawa dan tingkah polosnya mulai dipicu. Siang itu aku diajak oleh sekawanan dia. Kesengsaraan menyelimutinya, tapi masih ada tawa di muka polosnya. Kesana kemari berlarian tanpa beban. Ringan dan lincah. Sudah cukup lami kami berjalan. Handycamku masih aktif merekam semua kejadian. Sampai batasnya di bawah kolong jembatan tol. Perempatan jalan di daerah Jakarta Timur.
         Dia mulai beraksi. Lensa handycamku terus fokus dari jauh. Duduk terpaku melihatnya. Ditemani gitar kecil, bergantian dia beraksi di jalanan panas. Panasnya matahari bukan alsan mereka untuk berhenti. Receh demi receh masuk ke kantong mereka. Pemberian ikhlas dan hasil jeri payahlah yang mereka inginkan. Bukan iba dan kasihan yang diterima. Terduduk mereka di pinggir jalan sambil bersenda gurau. Tubuhku langsung menghampiri.
         Puas mereka beraksi di jalan kini giliran didepan handycam unjuk gigi. Jujur saja lima menit disini ibarat di neraka. Tapi panas menyengat tidak menciutkan semangat mereka. Berbekal modal dua ribu rupiah, nasi plus lauk pinggir jalan sudah memanjakan perut. Bagi dia dan kawan – kawannya. Terduduk lagi aku ditempat tadi sambil menyorot. layakkah para penerus bangsa ini berkeliaran di jalanan lepas? aku bertanya ke diriku lagi. Tanpa lelah terus saja mencari uang demi kehidupan. Bekerja keras. Andaikan petinggi – petinggi Indonesia memiliki semangat juang seperti mereka. Apa yang akan terjadi dengan Indonesia? Kemajuan pasti digenggam tangan. Satu – persatu mobil dihampiri. Siap menerima uluran tangan pengemudi ikhlas.
      Aku tersentak dengan segerombolan pria dewasa. Berpakain hitam dan celana bolong menandakan kebringasan. Rambut gondrong tak karuan. Kulit di penuhi bekas luka – luka lampau. Sorotanku bertahan terus. Akan terjadi peristiwa.
       Kucing menangkap tikus. Kuberi nama aksinya. Kekhawatiran memeluk tubuhku. Pikiran berkecamuk tiada henti.keteguhan hati memintaku diam. Ini tugasku. Inilah hidup dia. Segerombolan itu menunjuk kearah anak muda yang sedang mencari makan hidup. Menghampiri lalu mengelilingi mereka. Rasa takut menyambut. Lensa terus fokus dan mencatat apa yangt terjadi. Digerayanginya kantong dia penuh memaksa. Percuma memberontak. Senyuman kecil tersungging atas hasil yang di dapat. Sejumlah uang anak jalanan dari bersusah payah bekerja seharian. Musnah sekejap oleh segerombolan preman jalanan.
       Kehidupan memang keras. Batu saja kalah kerasnya oleh kehidupan ini. Aku tetap duduk membisu di kolong jembatan. Menyaksikan yang terjadi dari lensa handycamku. Segerombolan preman pergi menjauh. Merdeka dari apa yang ditemukan. Anak jalanan saling menyesalkan. Duduk tapi raut muka yang tidak menyenangkan. Terus diam. Dia, berdiri. Lampu jalanan berwarna merah. Alat musik gitar dibawa ke jalanan. Aku tersenyum. Penderitaan habis terjadi. Semangat mereka masih menetes. Aku yakin pada hati dia. Satu orang tidak cukup. Semuanya pun turun.
        Langit berwarna jingga. Matahari pun kini mengumpat dibalik bumi Indonesia. Mereka menjemputku. Badannya penuh keringat dan kesah. Satu pertanyaan menyambutku.
         “ Kak, kok tadi gak bantuin kami sih?” spontan aku menjawab
         “ Maaf dek, kakak sedang meliput kalian. Jadi kakak harus tetap merekam tanpa ada sangkut paut dari kakak.”
         “ Ooh, gitu. Ya udah ayo kita pulang.”
       Aku mencoba tersenyum. Gelap kini menyelimuti cakrawala. Lampu – lampu kecil menerangi daerah yang amat kecil di kota besar Jakarta ini. Adzan Maghrib berkumandang. Dia dan yang lain bergegas menuju masjid.
       Handycamku menyala dengan tenaga baru. Satu yang tidak mungkin ditinggalkan adalah berserah diri pada yang maha kuasa. Aku juga ikut shalat berjama’ah. Mereka melanjutkan dengan mengaji di Masjid. Itu adalah salah satu rutinitas mereka. Aku keluar Masjid sambil menunggu mereka selesai. Lampu – lampu yang bergantungan masing - masing rumah menemaniku di malam yang senyap. Sepi dan dingin. Bintang – bintang berlomba memancarkan sinar yang terang. Handycamku berhenti bekerja. Tenggelam oleh lamunan dan seruan pengajian yang sekali lagi menyadarkan.
       Hidup itu keras. Kupejamkan mata. Tidak di sadari telapak tangan menengadah ke langit luas. Ucapan doa melantun dari mulutku. Doa terimakasih, doa syukur, doa dia, doa keselamatan, doa orang tua, doa semua manusia, doa alam semesta, dan doa jagat raya. Berteriak kencang di palung hati. Gravitasi membuat air dari kantung mataku jatuh. Kenapa? Baru sekaarang aku menyadari hal semacam ini. Mengapa? Baru menangis sekarang. Bagaimana? Aku mengubahnya. Jam tanganku berdenting delapan kali. Pengajian telah selesai. Aku diajak berkeliling oleh dia dan teman – temannya. Sejam berlalu. Aku dan dia kembali kerumah. Dikamar. Aku disuguhi berbagai pengalaman yang ada di isi kepalanya. Aku tak tahu ekspresi apa yang mesti ku keluarkan. Senang? Sedih? Campur aduk mengocok naluriku. Panjang lebar ngalor ngidul dia bercerita. Seusai bercerita, diambilnya barang – barang yang menurutnya berharga. Di tadahkan tanganku agar menerima pemberiannya. Ucapan terima kasih berseru dari mulutku. Sedari tadi handycamku terus menelusuri apa yang terjadi.
        Kusoroti semua tanpa tersisa. Kulihat raut wajah mengantuk dari anak ini. Tidak terhitung berapa kali dia menguap.
          “ Kak, tidur yuk, udah malam!”
        Aku mengiyakan ajakannya. Di pembaringan. Hari ini bertambah pengalaman tak terduga di hidupku. Pasti kucatat dengan tinta amat tebal. Sepi menuntunku ke alam mimpi. Terlelap.
        Suaa anjing menggonggong. Ayam berkokok kencang. Burungpun ikut serta dalam paduan suara pagi itu. Karena merekalah aku terbangun dari malam yang sangat panjang. Nyenyak. Perlahan aku mencoba menopang badanku yang besar. Kesadaran belum pulih betul. Kulihat disebelah. Dia sudah tidak ada. Ku hampiri pintu keluar kamar. Matahari menyapa bersahabat dari luar rumah. Suasana kumuh tetap melekat di daerah ini. Namun udara segar pagi mengenakan. Bapak – bapak yang lalu lalang menyahutku ramah. Anak – anak bermain gembiranya. Aku kaget tepukkan tangan dia yang mungil mendarat di atas pundakku. Seraya mengajakku sarapan pagi. Aku pun beranjak dari teras nan sederhana. Menuju ruang makan.
         Nasi, tempe, ikan asin, dan lalapan menggiurkan di atas meja. Aku sarapan dengan keluarga yang asri. Meskipun kehidupan yang dipikul sangat berat. Mereka tetap bersyukur akan apa yang ada. Seusai makan aku merapikan barang – barang dan semua perlengkapanku. Mereka menunggu di depan rumah. Akhirnya pertemuan langka ini akan berakhir di pagi yang cerah. Sepintas aku mengeluarkan uang. Kuberikan kepada dia dan dia yang lain. Senangnya, melihat mereka bertingkah konyol gembira. Tidak lupa orangtua dia yang sedia menampungku. Aku menyalami semua yang hadir.
        Waktu membawaku pergi dari mereka. Lambaian tangan gemulai menyejukkan hatiku. Akan ku ingat daerah ini. Bila waktu mengizinkan. Aku pasti mengunjungi tempat ini. Batunya kehidupan akan hancur oleh kerja keras yang deras dan kebahagiaan yang tidak kunjung henti mengalir

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...