04 June 2014

Kereta Menuju Yogyakarta

Aku teringat mimpiku semalam. Semua orang berteriak minta tolong. Api dimana - mana. Aku yang terbujur kaku, tangan dan kaki yang tidak bisa bergerak. Semua penuh darah dan kepalaku menempel dengan rel kereta api.

Tapi itu semua hanya mimpi, aku meyakini diriku. Saat ini aku sedang duduk diatas kereta api. Hari ini aku akan pergi ke Yogyakarta. Sekedar menemui teman lama. Entah kenapa aku kembali teringat mimpi yang memilukan itu. Mungkin karena suasana kereta saat ini. Sepanjang jalan hanya mendengar gesekan roda kereta dengan rel. Sepi. Semua orang sibuk dengan mimpinya masing masing. Sedangkan aku? Masih terjaga. Ini bukan kali pertama ku naik kereta. Dulu waktu aku kecil ketika orang tua akan pulang kampung kala itu juga menaiki kereta. Tapi aku sudah lupa lebih jelasnya kapan.

Saat ini aku diselimuti ketakutan yang berasal dari mimpiku. Sial, baru kali ini terjadi. Terangnya lampu menghiasi dari luar jendela. Samar - samar lewat dengan cepat. Aku sengaja berangkat malam hari, agar besok siang bisa jalan - jalan. Kini yang ada dibayanganku adalah kereta yang terbalik. Kereta yang tertabrak kendaraan besar sehingga menimbulkan kebakaran yang besar. Sulit sekali untuk melepas dari bayang - bayang itu.

Untuk menghilangkannya aku segera melakukan kegiatan kecil. Jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Daripada tidak ada kerjaan lebih baik aku bermain game dari smartphone saja. Tidak peduli battery akan habis yang penting perasaan gelisah dan bayangan ini pergi. Sesekali sambil makan cemilan. Aaaakkhh, percuma saja. Rasa gelisah ini enggan berpaling dari kepala. Setiap benturan yang diciptakan oleh kereta, semakin nyata mimpiku. Aku coba chating dengan teman yang masih bangun. Mungkin bisa membuat lupa dari mimpiku. Sedari tadi aku menguap terus - terusan. Sepertinya aku mulai ngantuk. Benar juga, kenapa engga dari tadi aku tidur saja. Ku palingkan pandangan ke luar jendela masih gelap dan hanya ada pantulan diriku di kaca. Saat ini jam menunjukkan pukul 3 pagi. Tanpa pikir panjang aku langsung menutup mata. Berharap besok pagi sudah sampai di Jogja. Dengan selamat.

'mas mas kopi mas kopi.. seger pagi - pagi gini minum kopi mas'
'ha... Ohh... Iya pak makasih pak entar saja' jawabku setengah sadar


Tidak terasa hari sudah pagi. Banyak penjual nasi dan berbagai macam makanan berlalu lalang di dalam gerbong. Ternyata kereta sedang berhenti. Kulihat jam sekarang menunjukkan pukul 5 lewat 10 menit pagi. Aku bersyukur tidak terjadi apa - apa dan aku sudah tidak terbayang lagi oleh mimpi buruk itu. Menurut perhitungan aku sampai di Jogja sekitar pukul 7 pagi. Sebentar lagi berarti.

'mas pecelnya mas.. lima ribu aja murah'
'ya boleh bu satu'


Aku tergiur tawaran ibu - ibu penjual pecel. Wajar sih dari semalem perutku hanya di isi sama makanan ringan.
'Ini bu' aku memberikan selembaran lima ribu rupiah
'makasih ya mas'

Ibu itu melanjutkan perjalanannya untuk menghabiskan jualannya pagi ini. Sedangkan aku dengan lahap menyantap nasi pecel. Tidak lama kemudian kereta melanjutkan perjalanannya yang tersisa. Pemandangan diluar jendela tidak lagi gelap. Kabut pagi mendekap hamparan sawah yang luas. Terlihat petani sedang panen padi. Anak - anak SD akan berangkat ke sekolah dengan sepeda. Alangkah indahnya negeri ini. Menikmati alam dari kereta merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Tiba - tiba aku teringat kembali tentang semalam. Untung saja rasa takut itu sudah berakhir. Waktu di jam tangan sudah jam 6 pagi. Sebentar lagi sampai. Aku melanjutkan tidurku yang kurang puas tadi. Tidak sabar rasanya untuk sampai di Jogja.

DHUAARRR!!!!

Sepertinya aku mendengar suara ledakan. Mataku masih tertutup. Ah, mungkin aku sedang bermimpi. Tapi. Tunggu kenapa kaki ku susah digerakkan? 

Akkhh... perih sekali, ini benar - benar sakit sungguhan. Aku coba membuka mata. Entah kenapa rasa takut mengenai mimpi itu sangat besar sekali. Jangan - jangan menjadi kenyataan. Perlahan mata ku terbuka. Kaget dengan cahaya matahari yang menusuk. Sedikit buram aku tidak melihat jelas. Kupingku. Kenapa kupingku sunyi!? Aku tidak mendengar suara kereta. Hanya suara dengung yang terdengar. Lambat laun pandanganku mulai jelas. Rasa sakit dan perih semakin menjadi aku rasakan. Aakkhh ini benar - benar sakit. Ini bukan mimpi !


Darahku seperti berhenti mengalir. Aku melihat pemandangan yang sangat luar biasa sadis. Banyak orang - orang berteriak minta tolong. Muka mereka berlumuran darah. Ada terpincang - pincang. Di sebelah kananku terlihat seorang ibu sedang duduk memeluk anaknya perkiraan berumur 5 tahun. Seorang anak cewek. Kepala anak itu sudah tidak beraturan. Seperti buah kelapa yang terbelah dua. Isi kepala anak itu buyar di kaki sang ibu. Sang ibu menangis jerit sekali. Setiap tangisannya seperti menyayat hati. Aku yakin Ibu itu sangat mencintai anaknya. Di benar - benar merasa kehilangan.

Kupalingkan kepala ke kiri, meskipun agak sedikit sakit di daerah leher. Banyak tubuh manusia yang berserakan. Salah satunya aku melihat penumpang yang tidur selama perjalanan. Aku ingat bapak itu karena tidurnya yang lucu dengan mulut terbuka. Tapi sekarang kondisinya sangat mengenaskan. Bapak itu terkapar kaku, matanya melotot kearahku. Tatapannya seperti orang ketakutan. Aku yakin dia sudah tidak bernafas.
Akkhh. Rasa sakit itu datang lagi dari kakiku. Aku coba sedikit melirik kebawah kearah kakiku. Gilaa!! Pantas sakit sekali. Kakiku tertimpa oleh gerbong kereta. Aku tidak bisa merasakan kaki dari lutut sampai ujung jempol. AAAKKHH!! TOLOOONNGGG!!! Aku berteriak sekencangnya. Aku ketakutan. Pasti aku akan mati beberapa menit lagi. SIAALL! SIAAALL!! Aku menyesali diriku kenapa tidak turun di stasiun sebelumnya. BODOOHH!!

Aku meronta - ronta untuk keluar dari jepitan gerbong itu. Tapi semakin aku berusaha untuk melepaskan diri, rasa sakitnya semakin parah. Tidak ada kehidupan yang aku lihat. Hanya tubuh - tubuh penumpang lain yan tergeletak. Dari yang masih utuh sampai yang tidak jelas lagi bentuknya. Melihat pemandangan ini aku menjadi mual dan akhirnya muntah. Sepertinya hanya aku yang hidup.

Aku hanya bisa menunggu bala bantuan datang. Pandanganku kembali samar - samar. Akkhh pusing sekali kepalaku. Sepertinya aku sudah banyak mengeluarkan darah. Aku teringat masa kecilku sedang bermain mobil - mobilan di teras rumah. Bayangan orangtua kembali terlihat jelas. Padahal sudah lama mereka meninggalkan dunia. Ibu tersenyum kepadaku yang masih kecil. Melihat anak satu - satunya asyik dengan mainan baru. Aku berdiri di halaman rumah, masih menikmati kenangan masa kecilku dulu. Aku kangen Ibu. 

Selama menikmati, aku merasa ada yang menepuk pundakku. Aku terkejut dan sedikit menjauh dari tangan yang menepuk. Ternyata dia adalah ayahku. Aku bingung. Ayahku tersenyum padaku. Aku palingkan pandangan ke teras rumah. Aku yang kecil sudah tidak ada dan Ibu, sama melihat kearah kami. Aku dan Ayah. Ayah berjalan kearah teras rumah lalu berdiri di samping Ibu. Aku yang sudah lama tidak bercengkrama, beradu pendapat, bercanda, sangat merindukan sekali kehadiran mereka. Kemudian mereka membuka tangan, seperti orang siap untuk menerima pelukan. Mengajak untuk masuk ke rumah. Kembali bercanda bersama, melakukan hal yang menyenangkan. Akan bahagia sekali apabila bisa berkumpul lagi dengan mereka. Tanpa aku sadari air mata mengalir lembut di pipi. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari dan menyambut mereka. Aku merasakan hangat dan harumnya tubuh kedua orangtuaku. Aku mendengar suara mereka. Ibu dan Ayah juga merindukanku. Seketika aku menjadi anak kecil. Digendongnya dengan manja dan penuh kasih sayang. Lalu kami masuk dengan aku yang diayun - ayun keatas. Ke dalam rumah.


-Fiksi

1 comment:

  1. tulisannya bagus bang nih gue kasih penghargaan the liebster award , bisa dicek http://tommyalhamra.blogspot.com/2014/06/the-liebster-award.html

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...