19 December 2014

Pagi yang Lebih Cerah

Pagi itu sangat berbeda dari pagi lainnya. Lebih cerah dari pagi lainnya. Aku tersadar belum menidurkan mata dan badan. Semalam merupakan perjalanan yang panjang dan tinggi. Aku kisahkan tentang pagi itu dari teras atas rumahku. Semua berjalan seperti biasanya. Matahari menyiratkan sinarnya yang hangat. Burung berkicau berbagi makanan dengan burung lain. Dibawah dipertigaan. Aku mendengar Suara gerbang rumah terbuka kencang oleh seorang bapak. Ibu - ibu pergi belanja untuk makan keluarga. Sang suami yang mengantarkan istri beserta anaknya yang masih menendang - nendang perut si istri dari dalam, mengajak sang istri untuk menaiki becak yang sudah dipanggil oleh sang suami. Dilanjutkan dengan dering sepeda anak - anak yang hendak pergi sekolah. Tidak hanya satu, tapi beramai - ramai. Bapak ketua RT menyapa tetangga yang membuka gerbang tadi. Semuanya larut.

Aku? Aku masih sibuk mengamati dari atas. Semua kejadian yang ada di jalan. Tentu saja aku tidak sendiri. Aku dan sebatang rokok. Kalian tahu apa yang aku pikirkan ketika itu? Mungkin sedikit gila. Muncul pertanyaan. Apakah tuhan sedang asik menghisap tembakau lalu mengamati semesta ciptaannya dari atas sana yang kita tidak bisa jangkau? Aku hanya tertawa kecil pagi itu. Lalu menatap dalam langit biru.

2 comments:

  1. berimajinasi sangat enak itu bang kalau dalam posisi abang itu hehehe

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...