16 February 2013

Resume Reportase dan Produksi Berita Televisi


Pada suatu ketika, gue disuruh me-resume sebuah buku karangan dosen gue yaitu buku reportase dan produksi berita televisi  selengkapnya bisa dilihat di blog doi klik disini

Berikut gue suguhi beberapa isi dari bukunya.. monggooooo~



GRAND OPENING
Perkembangan globalisasi yang sangat pekat membuat teknologi menjadi tumpuan manusia untuk hidup khususnya dalam berkomunikasi. Sebut saja teknologi yang sangat mutakhir saat ini yaitu Televisi. Televisi memiliki pengaruh yang signifikan bagi penggunannya. Komunikasi massa pun mudah diciptakan dengan media yang berteknologi canggih. Dampak dari kemunculan media komunikasi massa ini sifatnya menggelobal. Bisa dilihat dari model Post-Teror melalui media. Ketika gedung WTC runtuh semula hanya indivdu-individu disana yang terlibat dan mengalami ketakutan akan terorisme. Tetapi saat media massa memainkan perannya, seluruh dunia akan tahu sajian berita yang diberikan akan memaksa audiens untuk berpikir bahwa itu ulah dari perbuatan terorisme. Realitas sosial yang berkembang pesat saat ini memungkinan media memiliki peran yang besar. Program – program dalam televisi secara kasat mata telah mengatur perilaku kita dimana yang dulu diatur oleh adat istiadat tradisional. Jadi yang penting dari komunikasi massa yaitu dari medianya sendiri. Bagaimana media itu menayangkannya. Ibarat orang yang pesakitan dia akan menerima suntikan jika memang bisa kembali sehat.

MEDIA TELEVISI
Ada 3 dimensi penting yang mendasari definisi-definisi komunikasi. Pertama adalah tingkat observasi, kedua adalah kesengajaan, dan yang ketiga yaitu penilaian normatif. Ketiga dimensi itu menjelaskan secara akurat keberadaan ilmu komunikasi masa kini. Televisi muncul di Indonesia ketika Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara Asian Games IV. Hanya ada satu stasiun televisi saat itu yaitu Televisi republik Indonesia (TVRI). Selanjutnya televisi swasta hadir untuk berperan dalam komunikasi massa di Indonesia. Kemunculan yang terus berlangsung itu diimbangi dengan teknologi dan inovasi yang baru. Sehingga terjadi persaingan didalamnya. Khalayak lah yang menjadi acuan perusahaan televisi untuk membuat acara yang dapat diterima oleh masyarakat. Gonjang – ganjing yang terjadi di “dapur” stasiun televisi kita menimbulkan kegelisahan dalam pengelolanya, ada tiga alasannya yaitu; pertama dari sisi hardware, kedua adalah software, dan terakhir adalah brainware.  Ketiganya itu adalah penentu bagi stasiun televisi untuk mendapatkan respon dari khalayak untuk menerima pesan yang ditayangkan dari media televisi. Idealisme juga menjadi garis besar bagi media sebagai pengawas terhadap kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat. Model Realitas Televisi bisa menjadi penyimpulan atas idealisme diatas. Aspek sejarah, membuktikan berdirinya media televisi yang berkaitan dengan teknologi dan padat modal. Filosofis, media televisi juga memiliki “agama” yang benama metafora. Realitas Sosial, bukan hanya saluran yang menyebarkan informasi ke seluruh dunia, televisi juga perantara untuk menyusun agenda dan memberitahukan hal – hal penting bagi manusiahingga selanjutnya menjadi saluran interaksi dari berbagai kegiatan komunikasi.

JURNALIS TELEVISI
Profesi sebagai jurnalis harus memiliki kesiapan jasmani maupun rohani. Tidak hanya harus memahami aspek tentang jurnalisme tetapi juga pengetahuan yang lain. Dibandingkan dengan pekerjaaan lain jurnalis memiliki etos kerja yang sangat berbeda, tidak ada istiliah pesimistis dan pergerakannya tidak terbatasi ruang dan waktu. Kepekaan humanisme (soft skill) juga haru dimiliki oleh jurnalis. Diantara jurnalis, polisi, dan peniliti hampir mirip jalan kerja mereka tetapi hanya terdapat perbedaan dengan kata kunci “media” dan “tujuan”, disitulah keunikannya cara kerja mereka sama tapi media yang digunakan dan tujuan masing-masing berbeda. Ketika kita menjadi jurnalis televisi ada beberapa hal penting yang harus dimiliki olehnya agar ketika terjun ke lapangan tidak akan mendapatkan kesulitan. Berwawasan, multi terampil, kreatif, passion, dan menjaga nilai etis. Semua itulah bekal yang harus dimiliki oleh jurnalis karena dengan itu ia akan menjalani pekerjaannya secara lebih profesional.

BERITA TELEVISI
Tentu saja berita sudah tidak asing bagi kita. Berita bisa didapat sehari-hari berhubungan dengan realitas kita. Sebuah berita jika kriteria, syarat, kategori, dan objektivitas fakta terpenuhi sudah termasik memiliki nilai berita yang tinggi. Rincian dari semua itu bisa dideskripsikan dengan beberapa unsur masing-masing, yaitu: Kedekatan Psikologi (Proximity), Kedekatan Geografis, Relevansi (Relevance), Keterbaruan (Immediacy), Daya Tarik (Interest), Drama, dan Menghibur (Entertainment). Jika kita melihat uraian diatas maka nilai berita menjadi relatif bagi pembaca atau khalayak. Bisa saja pembaca A berita anu memiliki nilai beritang yang tinggi berdasarkan faktor aktualitas. Sebaliknya pembaca B menilai nilai berita anu itu kecil dari faktor lain. Tetapi para jurnalis juga sudah menentukan semuanya sebelum akhirnya disebarkan ke media massa. Lain halnya dengan berita cetak, berita televisi biasanya lebih lengkap dan banyak diminati oleh khalayak. Karena ada ilustrasi dan audio visual yang aktual. Sehingga berita yang disuguhkan lebih berwarna dan memiliki nilai lebih. Efek – efek musik juga bisa mempengaruhi isi berita, kadang pula perlu dilakukannya dramatisasi agar berita itu seperti harus disimak karena bila tidak disimak akan tertinggal jauh.

PERSIAPAN REPORTASE
Sebagai jurnalis kita harus paling terdepan jika peristiwa terjadi atau ketika narasumber menyampaikan pendapatnya. Ada tiga cara jurnalis untuk menjangkau lokasi peliputan, yaitu: mandiri, semi-embbeded, embbeded. Dalam prosesnya jurnalis akan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk narasumber dan pertanyaan itu hari mengandung unsur 5W+1H. Intinya adalah enam pertanyaan itu, dari ke enam inti pertanyaan itu nantinya akan menjadi anak pertanyaan yang meluas. Dalam pengambilan beritanya jurnalis juga membawa medium untuk membantunya ketika reportase misalnya sound recorder, tape recorder,  atau buku catatan. Menurut Austin ada 3 jenis tindak tutur para penutur, gunanya adalah agar jurnalis memahami pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh narasumber. Ketiganya itu adalah Tindak Lokusi, ilokusi, prolokusi. Apabila sudah memahami itu tahap selanjutnya adalah membuat tulisan berita dari fakta dan realitas yang didapat dalam sebuah framing. Penulisan berita berbentuk seperti piramida terbalik, awal adalah kepala berita yang merupakan ringkasan fakta dari teras berita, nama jurnalis, teras berita, lalu tubuh berita dimulai dari yang terpenting sampai ke yang tidak penting. Selanjutnya diserahkan kepada redaksi.

AWAK ENG & VIDEO EDITOR
Perlu diketahui secara struktual, reporter menempati kasta terendah  di antara para jurnalis televisi lainnya. Banyak jabatan diatasnya yang lebih tinggi. Sebagai reporter, ia tidak bekerja sendiri tetapi ditemani oleh para awak electronic news gathering (ENG), keduanya ini tidak bisa dipisahkan, ibaratnya mereka itu sudah dikawinkan sehingga sehidup sematipun tetap bersama. Awak ENG ini yang bertugas memegang kamera dan mengoperasikan alat agar terciptanya suatu berita. Sebagai awak ENG ia harus tahu betul dengan peralatannya karena butuh keterampilan untuk menjalankannya apalagi dengan istilah-istilahnya seperti pan-left atau pan-right, tilt-up atau tilt-down, track-left atau track right, zoom-in atau zoom-out, dan masih banyak lagi. Ketika proses rekaman sudah selesai hasilnya akan di kasih oleh video editor. Dibandingkan dulu sekarang pengeditan berita lebih mudah karena sudah ada software yang mendukung. Tetapi apakah reporter juga harus memahami berbagai istilah tata bahasa gambar dan sebagainya? Kenapa tidak? Karena keberadaan kita tidak melulu menjadi reporter kan, dengan tahunya asal usul itu secara tidak sadar kita telah memiliki kemampuan dalam mengoperasikan peralatan tersebut dan bisa membahas seperti apa hasil berita yang mau di siarkan.

BAHASA TELEVISI
Tanpa bahasa kita akan sulit berkomunikasi. Dari bahasa itu akan menimbulkan perbedaan-perbedaan kecil seperti dialek, logat, atau aksen. Dalam dunia pertelevisian muncul istilah-istilah dimana selalu digunakan oleh orang yang berada dibidangnya. Contohnya di dunia televisi seperti, as live,intro, slug, teleprompter, dll. Berita-berita untuk televisin dapat dikemas dengan berbagai macam format seperti package, voice over ,sound on tape, live on tape, dan lainnya semua itu terdapat istilah-istilah bahasa dalam dunia televisi. Berikut ciri-ciri berita televisi, yakni: menggunakan kalimat bercerita, menghindari penggunaan kata sifat, menghindari penggunaan anak kalimat, dan penulisan angka dibulatkan ke jumlah terdekat. Itu adalah sebagian dari ciri-ciri berita televisi.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...