Skip to main content

Posts

Pagi yang Lebih Cerah

Pagi itu sangat berbeda dari pagi lainnya. Lebih cerah dari pagi lainnya. Aku tersadar belum menidurkan mata dan badan. Semalam merupakan perjalanan yang panjang dan tinggi. Aku kisahkan tentang pagi itu dari teras atas rumahku. Semua berjalan seperti biasanya. Matahari menyiratkan sinarnya yang hangat. Burung berkicau berbagi makanan dengan burung lain. Dibawah dipertigaan. Aku mendengar Suara gerbang rumah terbuka kencang oleh seorang bapak. Ibu - ibu pergi belanja untuk makan keluarga. Sang suami yang mengantarkan istri beserta anaknya yang masih menendang - nendang perut si istri dari dalam, mengajak sang istri untuk menaiki becak yang sudah dipanggil oleh sang suami. Dilanjutkan dengan dering sepeda anak - anak yang hendak pergi sekolah. Tidak hanya satu, tapi beramai - ramai. Bapak ketua RT menyapa tetangga yang membuka gerbang tadi. Semuanya larut.

Pertanyaan Sang Pelaut

Pernahkah kamu berlayar di laut lepas? Berlabuh dari satu dermaga ke dermaga lain. Bertemu orang baru dan bahasa baru. Wajah - wajah yang menyambut kehadiranmu. Sangat hangat. Senyuman yang tulus tidak terpaksa. Dalam semua itu timbul cerita yang nikmat untuk dikenang. Berbagi cerita satu sama lain, bersama kopi hangat di pagi itu. Kehidupan yang berbeda. Kamu di laut, mereka di daratan. Tapi apakah kamu akan menetap terus di dermaga itu?  Ya atau Tidak.

Asing!

Bau pesing semakin menyengat. Ada air mengalir dari atas kepalaku. Sial bocah itu tidak pernah jera. Aku terus maju. Tidak peduli sorakan mereka. Kembali kepalaku tertunduk. Jalanan berlubang menyandung kakiku. Seperti merelakan kepergianku. Sorakan itu semakin kencang.